Dalam sejarah Islam, Fatimah Az-Zahra memiliki banyak gelar kemuliaan, seperti Az-Zahra (Yang Bersinar) atau Al-Batul (Yang Suci). Namun, ada satu gelar yang paling unik, paling menyentuh hati, dan diberikan langsung oleh Rasulullah SAW sendiri, yaitu Ummu Abiha.
Secara harfiah, Ummu Abiha berarti Ibu dari Ayahnya.
Tentu ini terdengar janggal di telinga orang awam. Bagaimana mungkin seorang anak perempuan menjadi ibu bagi ayah kandungnya sendiri?
Gelar ini bukanlah kiasan kosong. Ia lahir dari kedalaman hubungan batin dan pengorbanan luar biasa Fatimah dalam merawat Rasulullah SAW di masa-masa terberat dakwah Islam.
Berikut adalah alasan dan kisah di balik gelar suci tersebut.
1. Menggantikan Peran Khadijah
Gelar ini mulai melekat ketika ibunda Fatimah, Sayyidah Khadijah Al-Kubra, wafat. Saat itu Fatimah masih sangat belia (kanak-kanak).
Sepeninggal Khadijah, Rasulullah SAW merasakan kesedihan dan kekosongan yang luar biasa. Beliau kehilangan penopang utama dakwah dan belahan jiwanya.
Di saat itulah, Fatimah kecil tampil dengan kedewasaan yang melampaui usianya.
Ia tidak menuntut dimanja selayaknya anak kecil. Sebaliknya, ia justru merawat ayahnya, menghibur kesedihan ayahnya, dan menyiapkan keperluan ayahnya, persis seperti yang dulu dilakukan oleh ibunya (Khadijah).
Ia menjadi pelipur lara bagi Rasulullah di tengah kerasnya penolakan kaum Quraisy.
2. Tangan Kecil yang Membersihkan Kotoran
Salah satu bukti nyata peran keibuan Fatimah terekam dalam peristiwa memilukan di depan Ka’bah.
Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang sujud shalat di depan Ka’bah, orang-orang kafir Quraisy (atas hasutan Abu Jahl) meletakkan jeroan unta yang kotor, bau, dan berdarah ke atas punggung Nabi yang suci.
Para sahabat yang melihat kejadian itu tidak berani mendekat karena takut pada ancaman Quraisy. Namun, ketika kabar itu sampai ke telinga Fatimah, gadis kecil itu segera berlari keluar rumah.
Dengan tangan mungilnya, ia menyingkirkan kotoran itu dari punggung ayahnya. Ia membersihkan baju ayahnya, lalu berdiri tegak memarahi para tokoh Quraisy yang kekar dan kejam itu. Ia tidak gentar sedikit pun demi membela ayahnya.
Setelah itu, ia menuntun ayahnya pulang, membasuh wajahnya, dan menenangkannya. Perhatian dan keberanian inilah yang membuat Nabi merasakan kasih sayang seorang ibu dari putrinya sendiri.
3. Perawat Luka di Medan Uhud
Peran Ummu Abiha kembali terlihat jelas saat Perang Uhud. Ketika Rasulullah SAW terluka parah, wajahnya berdarah, gigi gerahamnya patah, dan topi besi menancap di pipinya, banyak orang panik.
Fatimah Az-Zahra datang ke medan perang bukan untuk bersembunyi. Ia segera merawat luka ayahnya. Ketika darah di wajah Nabi tidak mau berhenti mengalir meski sudah dibasuh air, Fatimah mengambil tikar pandan, membakarnya hingga menjadi abu, lalu menempelkan abu itu ke luka ayahnya hingga darahnya berhenti.
Ketelatenan Fatimah dalam mengobati fisik dan mental Rasulullah inilah yang membuat Nabi sering mencium tangan dan kening putrinya, serta berkata: “Fatimah adalah bagian dariku.”
Gelar Ummu Abiha adalah simbol bahwa Fatimah Az-Zahra adalah rumah bagi Rasulullah SAW.
Setiap kali Rasulullah hendak bepergian (perang atau safar), orang terakhir yang beliau temui adalah Fatimah. Dan setiap kali beliau pulang dari perjalanan, orang pertama yang beliau temui (setelah shalat di masjid) adalah Fatimah.
Fatimah bukan sekadar anak. Ia adalah tempat curahan hati, penjaga rahasia, dan pelindung emosional bagi Nabi Muhammad SAW.

