Dalam perjalanan hidup, ada kalanya manusia membentur tembok tebal. Pintu-pintu solusi seolah tertutup rapat, dokter menyerah, hutang melilit, dan logika manusia tak lagi mampu menemukan jalan keluar.
Di saat-saat kritis seperti itulah, jutaan hati pecinta Ahlulbait melirihkan satu nama dengan penuh harap: “Ya Babul Hawaij…”
Babul Hawaij secara harfiah berarti “Pintu Hajat” atau “Pintu Terkabulnya Keinginan”. Sebuah gelar agung yang tidak disematkan sembarangan, melainkan dikhususkan bagi Abbas bin Ali as, sang pembawa panji Karbala.
Namun, pernahkah kita merenung sejenak? Mengapa gelar “Pintu Pengabul Hajat” justru diberikan kepada seseorang yang di detik-detik terakhir hidupnya merasa “gagal” memenuhi hajat terpenting orang yang dicintainya?
Sejarah mencatat dengan tinta darah, bahwa di tepi Sungai Efrat, Abbas mengorbankan kedua tangannya demi membawa seteguk air untuk keponakannya yang kehausan, Sukainah binti Husain. Namun, takdir berkata lain. Kantong air (girbah) itu dipanah musuh, dan airnya tumpah ke pasir Karbala.
Abbas gugur dengan hati yang hancur karena rasa malu, hingga ia meminta agar jasadnya tidak dibawa kembali ke perkemahan karena tak sanggup menatap wajah anak-anak yang kehausan.
Akan tetapi, Allah SWT Maha Adil. Sebagai ganti atas kedua tangan yang ia korbankan dan rasa malu yang ia tanggung demi ketaatan, Allah menjadikannya Babul Hawaij.
Allah seolah berfirman: “Wahai Abbas, jika di dunia engkau tidak mampu memberikan air itu, maka di sisi-Ku, Aku jadikan engkau perantara untuk mengabulkan segala hajat hamba-hamba-Ku yang meminta melalui wasilahmu.”
Filosofi di Balik Gelar Babul Hawaij
Gelar ini bukanlah sekadar penghormatan kosong. Dalam tradisi para pecinta Ahlulbait, diyakini bahwa ada “Ganti Rugi Ilahi” atas pengorbanan Abbas.
Ketika di Karbala, Abbas as adalah satu-satunya ksatria yang memiliki akses ke air (Sungai Efrat), namun ia menolak meminumnya karena setianya kepada Imam Husain as yang sedang kehausan.
Ia kemudian berusaha membawa air itu untuk anak-anak kecil, namun gagal karena kedua tangannya ditebas dan kantong airnya dipanah.
Rasa malu Abbas kepada Sayyidah Sukaimah binti Husain begitu dalam. Karena itulah, Allah SWT tidak ingin melihat hamba-Nya yang tulus ini malu untuk kedua kalinya.
Di alam keabadian, Allah memberikan kuasa kepada Abbas: Siapapun yang datang meminta pertolongan Allah melalui perantara (tawassul) Abbas bin Ali, maka permohonan itu tidak akan ditolak.
Seolah-olah Allah berkata: “Dulu engkau tidak bisa memberi air, maka sekarang engkau boleh memberi apa saja atas izin-Ku.”
Kedudukan Abul Fadhl Abbas di Mata Para Imam
Kebesaran Abbas bin Ali tidak hanya diakui oleh sejarah, tetapi juga dikonfirmasi oleh para Imam Maksum setelahnya.
Imam Zainal Abidin as (Ali bin Husain), yang menjadi saksi mata pengorbanan pamannya di Karbala, pernah bersabda dengan penuh kekaguman:
“Sesungguhnya bagi Paman Abbas, ada kedudukan di sisi Allah yang sangat agung, sehingga seluruh syuhada (orang yang mati syahid) akan merasa iri kepadanya pada Hari Kiamat.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa maqam (derajat) Abbas sangatlah unik. Ia bukan Nabi, bukan Imam, namun loyalitasnya menempatkannya di posisi yang membuat para syuhada lain “cemburu” dalam artian positif ( ghibthah).
Selain Imam Zainal Abidin, Imam Ja’far Shadiq as juga memberikan kesaksian yang masyhur tentang pamannya tersebut. Dalam sebuah riwayat, beliau mensifati Abbas dengan kalimat yang sangat indah:
“Paman kami, Abbas bin Ali, adalah seorang yang memiliki wawasan yang tajam (Nafidz al-Bashirah) dan iman yang kokoh (Shulb al-Iman). Ia berjihad bersama Abu Abdillah (Imam Husain), lulus dalam ujian pengorbanan dengan sangat baik, dan wafat sebagai syahid.”
Apa Makna Wawasan yang Tajam? Kalimat ini menegaskan bahwa kesetiaan Abbas kepada Imam Husain bukan sekadar fanatisme persaudaraan atau emosi sesaat.
Nafidz al-Bashirah berarti Abbas memiliki mata batin yang tembus pandang; ia benar-benar memahami kebenaran Imam Husain secara mendalam.
Ia tahu persis siapa yang ia bela, sehingga imannya tidak tergoyahkan oleh tawaran jaminan keamanan (amanah) yang diberikan musuh kepadanya.
Doa Tawassul kepada Abul Fadhl Abbas
Bagi Anda yang sedang didera kesulitan hidup, entah itu penyakit yang tak kunjung sembuh, masalah ekonomi, atau jodoh, para ulama mengajarkan sebuah munajat singkat untuk mengetuk pintu sang Babul Hawaij.
Kalimat ini sangat masyhur karena menyentuh inti pengorbanan Abbas, yaitu upayanya menghilangkan kesusahan dari wajah kakaknya, Imam Husain.
Berikut adalah bacaannya:
يا كاشِفَ الْكَرْبِ عَنْ وَجْهِ الْحُسَيْنِ اِكْشِفْ كَرْبي بِحَقِّ اَخيكَ الْحُسَيْنِ
Yâ Kâsyifal karbi ‘an wajhil Husain, iksyif karbî bi haqqi akhîkal Husain
Artinya:
“Wahai (Abbas) yang menghilangkan kesusahan dari wajah Husain, hilangkanlah kesusahanku demi hak saudaramu, Husain.”
Dianjurkan membaca kalimat ini sebanyak 133 kali (sesuai jumlah nilai huruf nama “Abbas” dalam ilmu Abjad) dengan hati yang khusyuk, sembari membayangkan ketulusan Abbas di Karbala.
Pintu Abul Fadhl Abbas Terbuka untuk Semua Golongan
Satu hal yang menakjubkan dari sosok Babul Hawaij adalah sifatnya yang universal. Tidak sedikit riwayat yang menceritakan bagaimana orang-orang non-Muslimseperti umat Kristen di Armenia atau penganut agama lain di India mendapatkan kesembuhan dan pertolongan setelah bernazar atas nama Abbas bin Ali.
Ini membuktikan bahwa Abbas adalah manifestasi dari Rahmat Allah. Sebagaimana matahari bersinar untuk semua orang, keberkahan dari Tangan yang Terpotong” ini pun menaungi siapa saja yang datang dengan hati yang hancur dan penuh harap.
Jika hari ini Anda merasa semua pintu dunia tertutup, cobalah ketuk pintu Babul Hawaij. Mintalah kepada Allah dengan menjadikan kesetiaan Abbas sebagai perantaranya. Insya Allah, hajat Anda akan menemukan jalannya.

