Saat ini, dunia mungkin terpukau menyaksikan fenomena Arbaeen Walk, di mana lebih dari 20 juta manusia memadati jalanan Irak layaknya sungai manusia yang tak berujung. Namun, untuk memahami kedalaman makna ziarah ini, kita harus memutar waktu mundur jauh ke belakang.
Mari kita kembali ke tahun 61 Hijriah, tepat 40 hari setelah tragedi Asyura.
Kala itu, tidak ada tenda-tenda pembagian makanan gratis (Maukib). Tidak ada jutaan peziarah. Padang Karbala saat itu hanyalah hamparan gurun yang sunyi, mencekam, dan masih menyisakan aroma darah pembantaian.
Siapa pun yang berani mendekati tempat itu, nyawanya terancam oleh pasukan penguasa tiran saat itu.
Namun, di tengah kesunyian yang berbahaya itu, terlihat seorang lelaki tua yang berjalan tertatih-tatih. Matanya buta, tak lagi mampu melihat cahaya dunia.
Tetapi, hatinya melihat sesuatu yang jauh lebih terang daripada matahari, yaitu Cinta kepada cucu Rasulullah.
Lelaki tua itu adalah Jabir bin Abdullah Al-Ansari, seorang sahabat setia Nabi Muhammad SAW.
Dialah orang pertama yang menjejakkan kakinya di tanah Karbala pasca-tragedi, meraba-raba tanah gersang demi mencari pusara kekasih hatinya, Imam Husain bin Ali.
Langkah kaki Jabir yang dipandu oleh murid setianya, Atiyyah Al-Awfi, bukanlah sekadar kunjungan biasa. Itu adalah tonggak sejarah. Langkah itulah yang menjadi fondasi dari tradisi Ziarah Arbain yang kini dilestarikan oleh jutaan umat manusia.
Berikut adalah kelanjutan artikel sejarah tersebut. Bagian ini akan membahas profil sang sahabat dan momen-momen ritual pertama yang sangat emosional.
Siapakah Jabir bin Abdullah Al-Ansari?
Jabir bukanlah sosok sembarangan dalam sejarah Islam. Ia adalah sahabat nabi yang terkemuka, seorang veteran yang telah mengikuti belasan pertempuran (Ghazwah) bersama Rasulullah SAW. Ia juga dikenal sebagai perawi hadis yang terpercaya.
Namun, yang membuat kehadirannya di Karbala begitu bermakna adalah kedekatan emosionalnya dengan sang kakek, Nabi Muhammad SAW.
Jabir adalah saksi mata hidup yang sering melihat bagaimana Rasulullah memangku, mencium, dan memanjakan Husain kecil.
Telinganya masih merekam jelas sabda Nabi: “Husain minni wa ana min Husain” (Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Husain).
Ketika berita syahadah (kematian) Imam Husain sampai ke Madinah, hati Jabir hancur. Meskipun matanya telah buta dimakan usia, mata batinnya menuntunnya untuk menempuh perjalanan jauh menuju Irak.
Ia tidak peduli pada ancaman pasukan Ibnu Ziyad yang masih berpatroli. Bagi Jabir, mengunjungi pusara belahan jiwa Nabi adalah kewajiban cinta yang tak bisa ditawar.
Ritual Pertama di Sungai Efrat
Ditemani oleh murid setianya yang juga seorang ulama besar Tabi’in, Atiyyah Al-Awfi, Jabir tiba di tepian Karbala pada tanggal 20 Safar (tepat 40 hari setelah tragedi).
Di sini, Jabir mengajarkan sebuah adab ziarah yang luar biasa, seolah-olah ia hendak menunaikan ibadah Haji. Sebelum mendekati makam, Jabir menuju Sungai Efrat.
Ia melakukan ghusl (mandi besar) untuk bersuci, lalu mengenakan pakaian yang bersih, dan melumuri tubuhnya dengan wewangian.
Ada satu momen unik yang dicatat sejarah. Saat hendak berjalan dari sungai menuju makam, Jabir berkata kepada Atiyyah: “Tuntunlah aku dengan langkah-langkah yang pendek.”
Atiyyah pun bertanya heran, “Mengapa harus langkah pendek?”
Jabir menjawab dengan sebuah hadis yang pernah ia dengar, bahwa setiap langkah kaki seorang mukmin menuju kewajiban suci akan dihitung sebagai pahala kebaikan.
Filosofi langkah pendek inilah yang kini menjadi spirit bagi jutaan peziarah Arbain, bahwa setiap tapak kaki di jalan ini adalah ibadah, bukan sekadar perjalanan fisik.
Rintihan Jabir di Pusara Imam Husain as
Momen paling menggetarkan hati terjadi ketika mereka tiba di gundukan tanah yang menjadi kuburan massal para syuhada.
Jabir berkata dengan suara bergetar, “Wahai Atiyyah, letakkan tanganku di atas pusara Husain.”
Begitu telapak tangan keriputnya menyentuh tanah makam yang masih basah itu, Jabir seketika roboh. Ia pingsan karena tak kuasa menahan gelombang kesedihan yang menghantam dadanya. Atiyyah segera memercikkan air ke wajah sang sahabat nabi hingga ia siuman.
Saat tersadar, Jabir berteriak memanggil nama yang ia rindukan sebanyak tiga kali: “Ya Husain! Ya Husain! Ya Husain!”
Namun, hanya kesunyian gurun yang menjawabnya. Maka, keluarlah kalimat ratapan yang melegenda itu dari bibir Jabir:
“Habib, la yujibu habibah…”
(Apakah seorang kekasih tidak mau menjawab panggilan kekasihnya?)
Jabir kemudian seolah menjawab pertanyaannya sendiri dengan air mata yang membanjir:
“Bagaimana engkau bisa menjawabku, wahai Husain… sementara urat lehermu telah terputus, dan kepalamu telah dipisahkan dari tubuhmu…”
Dialog imajiner di tengah gurun ini menjadi salah satu monolog paling menyayat hati dalam sejarah Islam. Ia menegaskan bahwa yang terbaring di sana bukan sekadar jenazah biasa, melainkan simbol kebenaran yang diperlakukan dengan sangat keji.
Pertemuan Dua Arus Kesedihan
Takdir Allah bekerja dengan cara yang misterius. Pada hari yang sama saat Jabir sedang meratapi makam imam Husain, sebuah rombongan kecil terlihat mendekat dari ufuk arah Syam (Damaskus).
Itu bukanlah rombongan pedagang, melainkan kafilah keluarga Nabi yang baru saja dibebaskan dari tawanan Yazid.
Rombongan itu dipimpin oleh Imam Ali Zainal Abidin (putra Imam Husain yang selamat) dan bibinya, Sayyidah Zainab.
Pertemuan di padang gersang itu menjadi momen yang sangat emosional. Di satu sisi, ada Jabir, sahabat setia yang mewakili generasi masa lalu bersama Rasulullah.
Sementara di sisi lain, ada Ahlulbait yang baru saja melewati badai ujian terberat dalam sejarah Islam.
Riwayat menceritakan bahwa ketika mereka bertemu, tangis pun pecah tak terbendung. Jabir memeluk Imam Ali Zainal Abidin, dan Imam berkata kepadanya:
“Wahai Jabir, di sinilah laki-laki kami dibunuh, anak-anak kami disembelih, dan wanita-wanita kami ditawan…”
Hari itu, di bawah langit Karbala yang saksi bisu, dua arus kesedihan bersatu. Mereka tidak hanya menangis, tetapi mendirikan majelis duka (majelis aza) bersama selama beberapa hari.
Inilah momen bersejarah yang dianggap sebagai embrio dari peringatan Arbain. Jika Jabir adalah peziarah pertama, maka pertemuan ini adalah Majelis Arbain pertama di dunia.
Merawat Warisan Cinta
Sejarah mencatat langkah Jabir bin Abdullah Al-Ansari dengan tinta emas bukan tanpa alasan. Kisahnya memberikan pelajaran abadi bagi umat manusia hingga akhir zaman.
Seringkali kita beralasan tidak punya waktu, tidak punya biaya, atau fisik tidak kuat untuk mendekat kepada Tuhan dan kebenaran. Namun, Jabir mematahkan semua alasan itu.
Ia tua, ia buta, dan ia berada di bawah ancaman pedang penguasa. Namun, ia tetap berangkat.
Apa yang dilakukan oleh 20 juta peziarah Arbain hari ini sejatinya hanyalah menapak tilas jejak kaki sahabat tua yang buta itu.
Jika Jabir berjalan dengan rabaan tongkat, kita berjalan dengan kemudahan teknologi.
Jika Jabir berjalan dalam kesunyian dan ketakutan, kita berjalan dalam keramaian dan pelayanan gratis.
Pada akhirnya, ziarah Arbain adalah tentang merawat warisan cinta. Ia mengajarkan kita bahwa mata fisik boleh saja kehilangan cahayanya, namun mata hati tidak boleh sedetik pun buta dalam mengenali mana yang haq (benar) dan mana yang batil (salah).

