Sebelum badai besar menghantam padang karbala pada 10 Muharram, sebuah tragedi yang tak kalah memilukan telah lebih dulu terjadi di lorong-lorong kota Kufah.
Inilah kisah tentang Muslim bin Aqil, sepupu sekaligus orang kepercayaan Imam Husain bin Ali. Ia adalah sosok yang dipilih bukan karena nasabnya semata, melainkan karena keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaannya yang tak tergoyahkan.
Imam Husain mengutusnya sebagai mata dan telinga, seorang duta besar yang membawa pesan perdamaian untuk merespons ribuan surat permohonan dari warga Kufah.
Sejarah mencatat kisah ini dengan tinta kelam yang penuh ironi. Bayangkan beban yang ia pikul. Saat pertama kali tiba, ia disambut bak pahlawan oleh 18.000 orang yang berebut mencium tangannya untuk berbaiat (janji setia).
Namun, hanya dalam hitungan hari, angin berbalik arah. Kota yang menjanjikan loyalitas itu tiba-tiba berubah menjadi penjara raksasa yang sunyi.
Bagaimana mungkin seorang tamu agung yang diundang dengan ribuan surat cinta, berakhir terasing sendirian tanpa seorang pun yang sudi membukakan pintu rumahnya saat malam tiba?
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami jejak langkah Muslim bin Aqil di Kufah. Sebuah kisah tentang keberanian seorang ksatria yang teguh memegang amanah di tengah kepungan pengkhianatan.
Ia menjadi martir pertama yang darah sucinya kelak akan menjadi mukadimah bagi revolusi abadi Imam Husain.
Biografi Singkat Muslim bin Aqil
Muslim bin Aqil adalah putra dari Aqil bin Abi Talib. Ayahnya, Aqil, adalah saudara kandung dari Imam Ali bin Abi Talib. Ini berarti secara nasab, Muslim adalah sepupu langsung (first cousin) dari Imam Husain dan Imam Hasan.
Darah ksatria mengalir deras dalam dirinya. Ia lahir dari klan Bani Hasyim, keluarga yang dikenal melahirkan para pemimpin dan pejuang paling pemberani di Jazirah Arab.
Selain hubungan darah sepupu, Muslim juga adalah menantu dari Imam Ali bin Abi Talib (ia menikahi Ruqayyah, putri Imam Ali), yang menjadikannya saudara ipar bagi Imam Husain.
Namun, kedekatan darah bukan satu-satunya alasan. Di kalangan Bani Hasyim, Muslim dikenal sebagai sosok yang paket lengkap:
Ia memiliki pemahaman agama yang dalam (faqih). Selain itu keberaniannya di medan laga disandingkan dengan singa-singa perang seperti Ja’far at-Tayyar.
Ia juga memiliki kecerdasan politik dan ketenangan emosi, sifat wajib bagi seorang diplomat yang akan memasuki wilayah musuh.
Mengapa Imam Husain Memilihnya?
Ketika ribuan surat dari penduduk Kufah menumpuk di hadapan Imam Husain, situasinya sangat dilematis. Ribuan orang mengaku siap mati demi mendukung Imam, namun sejarah membuktikan bahwa penduduk Kufah memiliki rekam jejak yang tidak stabil.
Imam Husain tidak bisa langsung memindahkan seluruh keluarganya ke sana tanpa verifikasi. Ia membutuhkan seorang mata dan telinga yang paling tepercaya. Seseorang yang jika ia berkata “Aman”, maka Imam akan percaya 100%.
Pilihan itu jatuh pada Muslim bin Aqil.
Dalam surat mandat resminya kepada penduduk Kufah, Imam Husain menuliskan kalimat pujian tertinggi yang pernah diberikan seorang Imam kepada pengikutnya:
“Aku mengutus kepadamu saudaraku, sepupuku, dan orang kepercayaanku (tsiqah) dari keluargaku, Muslim bin Aqil. Jika dia menulis kepadaku bahwa para ahli dan orang-orang bijak di antara kalian telah sepakat… maka aku akan segera datang menemui kalian.”
Kalimat ini adalah stempel legitimasi mutlak. Muslim bukan sekadar kurir surat, ia adalah representasi diri Imam Husain. Menolak Muslim berarti menolak imam Husain, dan mengkhianati Muslim berarti mengkhianati imam Husain.
Misi Rahasia ke Kota Kufah
Berbekal amanah suci dari Imam Husain, Muslim bin Aqil menempuh perjalanan panjang melintasi gurun pasir panas dari Mekkah menuju Kufah.
Ia tiba di kota tersebut pada awal bulan Syawal, membawa surat balasan dari Imam Husain untuk penduduk Kufah.
Awal kedatangannya disambut dengan euforia yang luar biasa.
Muslim pertama kali singgah di rumah seorang tokoh terpandang, Mukhtar al-Thaqafi (sebelum kemudian pindah ke rumah Hani bin Urwah demi strategi keamanan).
Kabar kedatangan Duta imam Husain tersebut menyebar cepat bagaikan api membakar ilalang kering.
Dalam waktu singkat, rumah tersebut dibanjiri oleh gelombang manusia. Mereka datang berbondong-bondong, menangis haru saat Muslim membacakan surat dari cucu Rasulullah.
Satu per satu, tangan-tangan mereka terulur untuk melakukan baiat (sumpah setia) kepada Muslim bin Aqil sebagai perwakilan Imam Husain.
Sejarah mencatat sekitar 18.000 orang (beberapa riwayat menyebut hingga 30.000) menyatakan kesiapannya untuk berjuang dan mati demi Imam Husain.
Melihat antusiasme yang begitu masif dan meyakinkan, Muslim bin Aqil merasa tugasnya telah berhasil. Ia melihat Kufah telah benar-benar siap menyambut pemimpin mereka.
Tanpa membuang waktu, Muslim segera menulis surat kilat kepada Imam Husain. Isi surat itu singkat namun penuh optimisme:
“Amma ba’du, sesungguhnya penunjuk jalan tidak akan membohongi keluarganya. Sebanyak 18.000 penduduk Kufah telah berbaiat kepadaku. Maka, datanglah segera ketika suratku ini sampai kepadamu.”
Surat inilah yang menjadi titik balik sejarah. Berdasarkan laporan tulus dari sepupunya ini, Imam Husain memutuskan untuk membatalkan ibadah hajinya dan segera bertolak menuju Irak.
Tidak ada yang menduga, bahwa tinta surat itu belum lagi kering, namun wajah Kufah sudah berubah total.
Pengkhianatan yang Berdarah
Mendengar kabar bahwa Kufah telah jatuh ke tangan pendukung Husain, Yazid bin Muawiyah di Damaskus segera mengambil langkah brutal. Ia menunjuk gubernur baru yang terkenal kejam dan tanpa ampun, yakni Ubaidillah bin Ziyad.
Kedatangan Ibnu Ziyad mengubah wajah Kufah dalam sekejap. Ia tidak hanya membawa pedang, tetapi juga membawa teror.
Ia memanggil para kepala suku dan memberikan dua pilihan sederhana: Emas bagi yang patuh, atau Penggal bagi yang membangkang.
Nyali penduduk Kufah pun ciut. Ketakutan menyebar lebih cepat daripada wabah.
Para kepala suku yang tadinya berbaiat, kini berbalik menekan anggota klan mereka.
Seorang ibu menarik paksa anak laki-lakinya agar pulang: “Pulanglah, biar orang lain yang mengurus masalah ini.”
Seorang istri menahan suaminya: “Apakah kau ingin kami menjadi janda dan anak-anakmu yatim karena melawan Ibnu Ziyad?”
Puncaknya terjadi pada suatu sore saat waktu shalat tiba. Ribuan orang masih berdiri di belakang Muslim bin Aqil untuk shalat berjamaah. Namun, satu per satu dari mereka menyelinap pergi melarikan diri di tengah shalat.
Ketika Muslim bin Aqil menyelesaikan shalatnya dan menoleh ke belakang, masjid itu telah kosong.
Saat ia melangkah keluar dari gerbang masjid, tidak ada satu orang pun yang tersisa untuk sekadar menunjukkan jalan. Dari 18.000 orang yang berbaiat, kini nol. Muslim bin Aqil, Sang Duta Imam Husain, kini berdiri sendirian di tengah kota asing yang telah mengkhianatinya.
Peran Hani bin Urwah dan Thaw’ah
Meskipun Kufah diselimuti kabut pengkhianatan, sejarah mencatat ada dua sosok yang tetap setia menjaga cahaya kehormatan.
Pertama adalah Hani bin Urwah, seorang tokoh senior yang menjadi tuan rumah tempat Muslim menginap. Ketika Ibnu Ziyad mengetahui keberadaan Muslim, ia menyeret Hani ke istana dan memaksanya menyerahkan tamunya itu.
Dengan wajah berlumuran darah akibat pukulan tongkat Ibnu Ziyad, Hani menolak tegas:
“Demi Allah, jika aku memiliki satu nyawa ataupun banyak nyawa, aku tidak akan pernah menyerahkan tamuku kepadamu.”
Hani bin Urwah akhirnya dipenjara dan kemudian dihukum mati, menjadi martir demi melindungi Duta Imam Husain.
Sosok kedua adalah seorang wanita tua biasa bernama Thaw’ah.
Setelah ditinggalkan sendirian di jalanan Kufah, Muslim bin Aqil berjalan tanpa arah di lorong-lorong gelap. Ia kehausan dan kelelahan. Ia berhenti di depan sebuah rumah dan melihat seorang wanita tua sedang menunggu anaknya.
Muslim meminta air, dan wanita itu memberinya. Namun ketika melihat Muslim tetap duduk di depan pintu, wanita itu bertanya, “Wahai hamba Allah, pulanglah ke keluargamu.”
Muslim menjawab lirih: “Aku tidak punya rumah dan tidak punya keluarga di kota ini. Aku adalah Muslim bin Aqil.”
Mendengar itu, Thaw’ah segera membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Di saat ribuan laki-laki Kufah menutup pintu karena takut, seorang wanita tua justru mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi utusan Rasulullah.
Rumah Thaw’ah menjadi benteng terakhir Muslim bin Aqil sebelum akhirnya tempat itu dikepung oleh pasukan Ibnu Ziyad keesokan harinya.
Tentu, ini adalah bagian penutup yang akan menceritakan detik-detik terakhir yang memilukan sekaligus heroik dari Muslim bin Aqil.
Bagian ini harus digambarkan dengan syahdu namun gagah, karena kematian Muslim bin Aqil bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan prinsip.
Syahidnya Sang Duta di Hari Arafah
Pada pagi hari tepatnya tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah), tempat persembunyian Muslim akhirnya terbongkar akibat pengkhianatan putra Thaw’ah sendiri. Pasukan Ibnu Ziyad mengepung rumah kecil itu.
Layaknya seekor singa yang terpojok, Muslim bin Aqil keluar menghunus pedangnya. Meskipun sendirian, keahlian tempurnya sebagai keturunan Bani Hasyim membuat pasukan musuh gentar.
Ia bertarung gagah berani di lorong-lorong sempit Kufah, menahan puluhan prajurit hingga akhirnya ia terluka parah, kehabisan tenaga, dan tertangkap.
Dengan tubuh penuh luka dan bibir yang pecah kehausan, Muslim diseret ke hadapan Ibnu Ziyad di istana Darul Imarah.
Tidak ada rasa takut sedikit pun di matanya. Saat Ibnu Ziyad mengancam akan membunuhnya, Muslim menjawab dengan tenang:
“Membunuhku bukanlah hal baru bagi orang sepertimu. Orang-orang yang lebih jahat darimu telah membunuh orang-orang yang lebih baik dariku.”
Menjelang eksekusi, Muslim mengajukan satu permintaan terakhir, beliau Menghadap ke arah Madinah untuk memberi salam kepada Imam Husain.
Dari atap istana yang tinggi, dengan angin panas yang menerpa wajahnya, ia berteriak dengan sisa tenaganya:
“Assalamu’alaika ya Aba Abdillah! (Salam atasmu wahai Abu Abdillah/Husain). Salam perpisahan dariku untukmu… Kembalilah wahai Husain! Jangan datang ke Kufah! Penduduk kota ini telah mengkhianatimu!”
Setelah itu, tubuh suci Muslim bin Aqil dilempar dari atap istana ke pasar di bawahnya, kemudian diseret di jalanan kota sebagai tontonan. Hani bin Urwah pun mengalami nasib serupa.
Tragedi ini terjadi tepat pada hari ketika umat Islam di Mekkah sedang wukuf di Arafah. Saat jemaah haji mengenakan pakaian ihram putih, Muslim bin Aqil mengenakan ihram darahnya sendiri demi cinta kepada Imam zamannya.
Muslim bin Aqil adalah Simbol Kesetiaan Abadi
Kisah Muslim bin Aqil mengajarkan kita tentang harga sebuah kesetiaan. Di saat 18.000 orang memilih aman dengan mengkhianati janji mereka, Muslim memilih bahaya demi memegang teguh amanah.
Ia adalah martir pertama Karbala. Darahnya yang tumpah di Kufah menjadi peringatan abadi bagi Imam Husain tentang watak pengkhianatan dunia.
Meskipun jasadnya hancur, namanya kini terukir abadi di sebelah makam agung Imam Ali di Masjid Kufah, diziarahi oleh jutaan orang yang menangisinya setiap tahun.
Muslim bin Aqil telah membuktikan bahwa: Menjadi sendirian dalam kebenaran jauh lebih mulia daripada berada di tengah keramaian yang penuh kepalsuan.

