Ummul Banin, Simbol Pengorbanan dan Kesetiaan

Penulis: Redaksi
Jumat, 23 Januari 2026 | 14.10 WITA · 73 Views
ummul banin simbol pengorbanan dan kesetiaan

Dalam sejarah Islam, sosok Fatimah bint Hizam, atau yang lebih dikenal sebagai Ummul Banin, menempati posisi istimewa sebagai wanita yang melahirkan para pahlawan Karbala.

Kisah hidupnya adalah perpaduan antara keberanian, kesetiaan, dan cinta yang mendalam kepada keluarga Nabi Muhammad SAW.

Pernikahan Suci

Kisah masuknya Ummul Banin ke dalam rumah tangga Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bermula dari sebuah permintaan khusus.

Imam Ali as meminta saudaranya, Aqil yang dikenal sebagai ahli silsilah Arab (nasab) untuk memilihkan seorang wanita yang dilahirkan dari keturunan para pahlawan dan pemberani, agar kelak melahirkan seorang ksatria yang gagah berani.

Aqil kemudian menyarankan Fatimah binti Hizam Al-Kilabiyah. Aqil berkata, “Nikahilah dia, karena tidak ada di kalangan Arab yang lebih pemberani dari leluhurnya.”

Keluarga Ummul Banin memang dikenal memiliki catatan sejarah yang penuh dengan kemuliaan, keberanian, dan sifat-sifat ksatria seperti kedermawanan dan menjaga kehormatan.

Nasab dan Kelahiran

Nama lengkap beliau adalah Fatimah binti Hizam bin Khalid bin Rabi’ah bin Al-Wahid bin Ka’ab bin Amir bin Kilab. Sedangkan Ibu ummul banin bernama Tsumamah binti Sahl bin Amir.

Menurut sebagian besar riwayat, beliau dilahirkan pada tahun ke-5 Hijriah. Julukan Ummul Banin (Ibuku Para Putra) sebenarnya adalah kunyah dari neneknya, Laila binti Amr, yang memiliki lima orang anak laki-laki, dan yang tertua bernama Abu Bara’ yang dijuluki Mula’ib al-Asinnah (Sang Pemain Ujung Tombak).

Penyair terkenal, Labid, pernah membanggakan nasab leluhur Ummul Banin ini di hadapan Raja Nu’man dengan syairnya:

نَحْنُ بَنُو أُمِّ البَنِينَ الأَرْبَعَه *** وَنَحْنُ خَيْرُ عَامِرِ بْنِ صَعْصَعَه
“Kami adalah empat putra Ummul Banin (nenek leluhur), dan kami adalah keturunan terbaik dari Amir bin Sha’sha’ah.”
المُطْعِمُونَ الجَفْنَةَ المُدَعْدَعَه *** وَالضَّارِبُونَ الهَامَ تَحْتَ الخَيْضَعَه
“(Kami) pemberi makan dengan wadah yang penuh melimpah (simbol kedermawanan), dan pemukul batok kepala musuh di bawah debu pertempuran (simbol keberanian).”

Cinta dan Adab Ummul Banin Kepada Keluarga Nabi

Setelah menikah, Ummul Banin menunjukkan adab yang luar biasa tinggi. Diriwayatkan bahwa beliau meminta kepada Imam Ali as untuk tidak memanggilnya dengan nama aslinya, Fatimah.

Hal ini dilakukan agar Al-Hasan dan Al-Husain as tidak teringat kepada ibu mereka, Fatimah Az-Zahra as, yang dapat membangkitkan kesedihan mereka.

Ummul Banin tidak menempatkan dirinya sebagai pengganti ibu mereka, melainkan sebagai pelayan yang penuh kasih sayang.

Beliau mewarisi sifat-sifat mulia dari keluarganya dan membaktikan dirinya di rumah yang penuh kemuliaan itu.

Cintanya kepada Ahlulbait begitu dalam, beliau bahkan lebih mementingkan keselamatan Al-Husain daripada anak-anak kandungnya sendiri.

Ibu dari Ksatria Karbala

Dari pernikahan suci ini, lahirlah empat orang putra yang gagah berani:

  1. Al-Abbas (Qamar Bani Hashim)
  2. Abdullah
  3. Utsman
  4. Ja’far

Keempatnya mewarisi keberanian, kepahlawanan, dan kemuliaan dari ayah dan ibu mereka.

BACA JUGA: Mengenal Abul Fadhl Abbas, Sang Simbol Kesetiaan dan Pengorbanan

Ketika Imam Husain as berangkat ke Irak, Ummul Banin mempersembahkan keempat putranya untuk membela dan berkorban demi saudaranya itu.

Bagi Ummul Banin, kehormatan terbesarnya adalah menjadi ibu dari Al-Abbas dan saudara-saudaranya yang syahid.

Tragedi Karbala dan Kesetiaan Tanpa Batas

Puncak ketulusan Ummul Banin terlihat saat berita tragedi Karbala sampai ke Madinah. Ketika pembawa berita mengumumkan kematian putra-putranya, Ummul Banin justru bertanya tentang nasib Imam Husain as.

Ia mengabaikan berita kematian keempat anaknya dan terus bertanya tentang keselamatan imam Husain.

Barulah ketika diberitahu bahwa Imam Husain telah syahid, ia menangis dan berkata bahwa hatinya telah hancur.

Reaksi ini menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Imam Husain (cucu Rasulullah) jauh melampaui kasih sayangnya kepada anak-anaknya sendiri. Ia bahkan berkata bahwa kematian anak-anaknya adalah tebusan bagi Al-Husain.

Ratapan di Baqi’

Setelah peristiwa Karbala, Ummul Banin setiap hari pergi ke pemakaman Baqi’ membawa cucunya, Ubaidullah bin Al-Abbas.

Di sana ia meratapi putra-putranya dengan syair-syair yang menyayat hati, hingga membuat orang-orang yang mendengarnya termasuk Marwan bin Hakam (musuh Ahlulbait) ikut menangis.

(Diriwayatkan beliau membaca syair ini di pemakaman Baqi’ sambil menangisi putranya)

يا مَنْ رَأَى الـعَبَّاسَ كَرَّ *** عـــلَى جـمَاهِيرِ النَّقَدْ
Wahai siapa yang melihat Abbas menyerang sekawanan domba (musuh).
وَوَرَاهُ مــنْ أَبْنَاءِ حَيْدَرَ *** كــــــلُّ لـَيْثٍ ذِي لَبَدْ
Dan di belakangnya ada putra-putra Haidar (Ali), masing-masing bagaikan singa yang bersurai lebat (gagah).
أُنْبِئْتُ أَنَّ ابْنِي أُصِيبَ *** بِرَأْسِــــهِ مَقْطُوعَ يَدْ
Dikabarkan kepadaku bahwa putraku terluka di kepalanya, dalam keadaan tangannya terpotong.
وَيْلِي عَلَى شِبْـــلِي أَمَـالَ *** بِرَأْسِهِ ضَرْبُ العَمَدْ
Duhai celakanya anak singaku, kepalanya miring tertimpa pukulan gada besi.
لَوْ كَانَ سَـيْـــفُهُ فِي يَدَيْـــــهِ *** لَمَا دَنَـا مِنْـــــهُ أَحَدْ
Seandainya pedang masih ada di tangannya, niscaya takkan ada seorang pun yang berani mendekatinya.

Beliau juga melantunkan syair yang memohon agar tidak lagi dipanggil Ummul Banin, karena semua putranya telah tiada:

لا تَدْعُوِنِّي وَيْكِ أُمَّ البَنِينَ *** تُذَكِّرِينِي بِلُيُوثِ العَرِينِ
Jangan panggil aku lagi wahai ‘Ummul Banin’ (Ibu Para Putra), kalian mengingatkanku pada singa-singa yang gagah (di sarangnya).
كَانَتْ بَنُونٌ لِي أُدْعَى بِهِمْ *** وَاليَوْمَ أَصْبَحْتُ وَلا مِنْ بَنِينَ
Dulu aku memiliki putra-putra yang mana aku dipanggil dengan nama mereka, namun hari ini aku tidak lagi memiliki putra.
أَرْبَعَةٌ مِثْـلُ نُسُورِ الرُّبَى *** قَدْ وَاصَلُوا المَوْتَ بِقَطْعِ الوَتِينِ
Empat orang bagaikan elang di pegunungan, mereka telah menyambut kematian dengan terpotong urat lehernya.
تُنَازِعُ الخِرْصَانُ أَشْلَاءَهُمْ *** فَكُلُّهُمْ أَمْسَى صَرِيعاً طَعِينْ
Tombak-tombak berebut mencabik tubuh mereka, maka semuanya gugur tersungkur penuh luka tusukan.
يَا لَيْتَ شِعْرِي أَكَمَا أَخْبَرُوا *** بِأَنَّ عَبَّاساً قَطِيعُ الوَتِينْ
Duhai kiranya, benarkah kabar yang disampaikan, bahwa (putraku) Abbas telah terpotong tangan kanannya?

Wafatnya Sang Wanita Agung

Ummul Banin wafat pada tahun 64 Hijriah. Kabar wafatnya disampaikan saat Imam Zainal Abidin as dikunjungi oleh Al-Fadhl bin Abbas.

Kabar wafatnya disampaikan oleh Al-Fadhl bin Al-Abbas kepada Imam Zainal Abidin as yang saat itu sedang menangis. Al-Fadhl  berkata dengan suara tercekik, “Telah wafat nenekku, Ummul Banin.”.

Ummul Banin dikenang sebagai wanita mukminah yang setia, yang mengetahui hak-hak Ahlulbait, dan dianugerahi karamah oleh Allah di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *