Kota Madinah tersenyum cerah pada hari itu. Tepat pada tanggal 4 Sya’ban tahun 26 Hijriah, sebuah cahaya baru bersinar di rumah Imam Ali bin Abi Talib.
Kabar gembira menyeruak ke seluruh penjuru kota, telah lahir seorang bayi laki-laki yang wajahnya begitu tampan, kulitnya putih bersinar, dan auranya memancarkan ketenangan sekaligus kewibawaan.
Saking tampannya, orang-orang yang melihatnya seolah melihat rembulan yang sedang purnama di tengah kegelapan malam.
Kelak, dunia akan mengenalnya dengan julukan Qamar Bani Hasyim (Rembulan Keluarga Bani Hasyim).
Namun, bayi ini bukanlah bayi biasa. Ia adalah Abbas bin Ali. Kelahirannya bukan sekadar menambah jumlah keturunan keluarga Nabi, melainkan sebuah “proyek besar” sejarah untuk mempersiapkan pelindung terkuat bagi Imam Husain di masa depan.
Mencari Rahim Ksatria
Kisah kelahiran Abbas bin Ali sebenarnya dimulai jauh sebelum ia dikandung. Ia bermula dari sebuah dialog visioner antara Imam Ali bin Abi Talib dengan saudaranya, Aqil bin Abi Talib.
Sepeninggal Sayyidah Fatimah Az-Zahra, Imam Ali memanggil Aqil. Aqil dikenal sebagai pakar silsilah (nasab) bangsa Arab yang paling ulung. Ia hafal betul karakter, sifat, dan keberanian setiap suku di Jazirah Arab.
Imam Ali berkata kepada saudaranya:
“Wahai Aqil, carikan untukku seorang wanita dari kalangan ksatria Arab yang pemberani, agar aku bisa menikahinya dan dia melahirkan untukku seorang putra yang pemberani dan ksatria.”
Aqil bertanya, “Untuk apa, wahai saudaraku?”
Imam Ali menjawab dengan pandangan menerawang jauh ke masa depan:
“Agar anak itu kelak menjadi pembela bagi putraku, Husain, di Padang Karbala.”
Permintaan ini menunjukkan bahwa Abbas bin Ali memang didesain sejak awal untuk satu misi suci, yaitu menjadi perisai imam Husain. Imam Ali tidak mencari kekayaan atau kecantikan semata, melainkan genetika keberanian.
Setelah berpikir sejenak, Aqil merekomendasikan satu nama, yakni Fatimah binti Hizam.
Wanita ini berasal dari klan Bani Kilab, sebuah suku yang dikenal tidak ada tandingannya dalam keberanian dan ilmu pedang di seluruh Arab.
“Nikahilah dia,” kata Aqil, “Karena tidak ada di bangsa Arab yang lebih pemberani dari leluhurnya.”
Fatimah binti Hizam inilah yang kemudian kita kenal dengan gelar mulia Ummul Banin (Ibunda Para Putra). Dari rahim wanita tangguh dan benih Imam Ali inilah, lahir sang kesatria Abbas bin Ali as.
Air Mata di Balik Buaian
Biasanya, kelahiran seorang bayi disambut dengan tawa bahagia. Namun, ada pemandangan ganjil yang terjadi saat Abbas kecil lahir.
Ketika bayi suci itu dibedong dengan kain putih dan diserahkan ke pangkuan ayahnya, Imam Ali bin Abi Talib menatap wajah putranya dengan tatapan cinta yang dalam.
Jari-jari Imam membelai lembut lengan mungil bayi itu. Ia menyingkap kain yang menutupi lengan atas hingga ke jari-jari kecil Abbas.
Tiba-tiba, bahu sang Amirul Mukminin berguncang. Air mata deras mengalir membasahi pipinya hingga menetes ke wajah sang bayi.
Ummul Banin yang menyaksikan itu terkejut dan khawatir. Ia bertanya, “Wahai Imam, bukankah ini hari yang bahagia? Mengapa engkau menangis saat melihat lengan putraku? Apakah ada cacat pada tubuhnya?”
Imam Ali menggeleng pelan, lalu menjawab dengan suara bergetar yang menembus hati:
“Wahai Ummul Banin, mataku melihat jauh ke masa depan. Aku melihat sepasang tangan kecil ini kelak akan menjadi dewasa… dan demi membela saudaranya, Husain, kedua tangan ini akan terpotong di tepi Sungai Efrat.”
Ruangan itu seketika hening. Kegembiraan bercampur dengan kesedihan yang agung. Namun, Ummul Banin tidak meratap histeris. Ia justru memeluk takdir itu dengan bangga. Ia paham bahwa putranya lahir memang untuk dikorbankan.
Sejak hari itu, Ummul Banin tidak membesarkan Abbas sebagai anaknya, melainkan sebagai prajurit imam Husain.
Arti Nama dan Gelar
Nama adalah doa. Pemberian nama “Abbas” oleh Imam Ali juga memiliki makna filosofis yang sangat kuat.
1. Al-Abbas (Sang Singa yang Tegas)
Secara bahasa, Abbas bermakna “Singa yang wajahnya membuat musuh lari ketakutan” atau “Wajah yang masam dan tegas kepada musuh”.
Nama ini sangat kontras dengan wajahnya yang tampan. Ini menyiratkan karakter ganda: Ia sangat lembut kepada kawan (terutama kepada Imam Husain), namun akan berubah menjadi mimpi buruk yang menakutkan bagi musuh di medan perang.
2. Abul Fadhl (Bapak Keutamaan)
Ini adalah kunyah (panggilan kehormatan) beliau. Fadhl berarti keutamaan atau kelebihan. Beliau disebut Abul Fadhl karena dalam dirinya terkumpul segala macam kebaikan, dermawan, berilmu, setia, dan pemberani.
Hingga hari ini, jika orang Arab ingin memuji sifat ksatria seseorang, mereka akan merujuk pada Abbas.
3. Qamar Bani Hasyim (Rembulan Bani Hasyim)
Julukan ini diberikan karena ketampanan fisiknya yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa jika Abbas menunggang kuda yang tinggi dan gagah, kakinya menyentuh tanah saking tinggi dan tegap posturnya.
Wajahnya bersinar terang layaknya bulan purnama di tengah bintang-bintang klan Hasyim. Namun, cahaya itu bukan sekadar fisik, melainkan pantulan cahaya ketaatannya kepada Imam zaman-nya.
Pelajaran Adab dari Madrasah Ummul Banin
Kelahiran Abbas bin Ali tidak bisa dipisahkan dari peran luar biasa sang ibu, Ummul Banin. Sejak Abbas mulai belajar berbicara, Ummul Banin menanamkan satu prinsip emas yang tidak dimiliki ibu manapun di dunia.
Meskipun Abbas dan Husain adalah saudara satu ayah (sama-sama putra Ali bin Abi Talib), Ummul Banin selalu mengajarkan:
“Wahai Abbas, jangan pernah engkau memanggil Hasan dan Husain dengan sebutan ‘Kakak’. Panggillah mereka dengan sebutan ‘Tuanku’ (Sayyidi) atau ‘Pemimpinku’ (Mawlay). Karena mereka adalah putra Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah, sedangkan engkau hanyalah putraku, hamba mereka.”
Inilah puncak dari adab. Sepanjang hidupnya, Abbas memegang teguh ajaran ini. Ia selalu berjalan satu langkah di belakang Imam Husain.
Ia tidak pernah duduk sebelum dipersilakan. Matanya selalu waspada mengawasi sekeliling tuannya.
Sejarah mencatat, Abbas hanya sekali memanggil Husain dengan sebutan “Wahai Kakakku”, yaitu pada detik-detik terakhir hidupnya di Karbala, ketika kedua tangannya telah tiada dan ia terjatuh dari kudanya.
Panggilan itu adalah tanda perpisahan, sekaligus tanda bahwa tugasnya sebagai pelindung telah purna.
Menyambut tanggal 4 Sya’ban bukan sekadar merayakan ulang tahun seorang tokoh sejarah. Kita sedang merayakan kelahiran definisi dari kesetiaan itu sendiri.
Jika tidak ada Abbas bin Ali, mungkin dunia tidak akan pernah tahu batas tertinggi pengorbanan seorang adik kepada kakaknya, atau seorang pengikut kepada pemimpinnya.
Ia mengajarkan bahwa hubungan darah (nasab) tidak ada artinya tanpa diikat oleh kesamaan prinsip dan ketaatan.
Selamat datang di dunia, wahai Qamar Bani Hasyim. Engkau lahir dengan wajah laksana bulan purnama, dan engkau wafat dengan meninggalkan cahaya yang tak akan pernah padam menuntun para pencari kebenaran.

