Kisah Pendeta Nasrani dan Kepala Imam Husain

Penulis: Redaksi
Senin, 19 Januari 2026 | 10.49 WITA · 159 Views
Kisah Pendeta Nasrani dan Kepala Imam Husain

Tragedi Karbala tidak berakhir saat matahari terbenam di tanggal 10 Muharram. Setelah pertempuran usai, dimulailah babak baru yang tak kalah menyayat hati: perjalanan panjang arak-arakan tawanan dan kepala para syuhada dari Kufa menuju istana Yazid di Syam (Damaskus).

Dalam rombongan yang mengerikan itu, kepala cucu Rasulullah SAW, Imam Husain bin Ali as, ditancapkan di ujung tombak paling tinggi, diarak melintasi kota dan gurun sebagai trofi kemenangan pasukan musuh.

Namun, Allah SWT tidak membiarkan kekasih-Nya dihinakan begitu saja. Sepanjang perjalanan berdarah itu, terjadi berbagai peristiwa di luar nalar manusia (karomah) yang membuktikan bahwa meskipun jasad Imam Husain telah wafat, namun nur (cahaya) keimanan beliau tidak pernah mati.

Salah satu kisah yang paling masyhur dan tercatat dalam berbagai kitab sejarah, baik Sunni maupun Syiah adalah pertemuan rombongan pasukan Yazid dengan seorang Pendeta Nasrani (Rahib) di sebuah biara tua.

Di tengah perjalanan panjang menuju Syam, pasukan pembawa kepala tersebut memutuskan untuk beristirahat di sebuah tempat bernama Qinnasrin.

Di sana terdapat sebuah biara (gereja tempat pertapaan) yang dihuni oleh seorang Rahib atau Pendeta Nasrani yang taat.

BACA JUGA: Kisah al-Hurr bin Yazid Ar-Riyahi: Bukti Bahwa Pintu Maaf Tuhan Selalu Terbuka

Malam itu, pasukan Yazid berpesta pora. Mereka makan dan minum khamar (minuman keras) untuk merayakan kemenangan mereka, sambil menancapkan tombak yang membawa kepala suci Imam Husain di dekat dinding biara.

Mereka memperlakukan kepala cucu Nabi itu layaknya barang rampasan perang biasa, tanpa sedikit pun rasa hormat.

Di tengah keheningan malam, Sang Pendeta yang sedang terjaga melihat sebuah pemandangan yang mengguncang jiwanya dari jendela biara.

Ia melihat cahaya terang benderang memancar dari kepala yang tertancap di tombak itu. Cahaya tersebut begitu kuat hingga menembus langit, seolah-olah ada tangga cahaya yang menghubungkan kepala tersebut dengan pintu-pintu langit.

BACA JUGA: 7 Kisah Para Nabi Di Tanah Karbala

Pendeta itu juga mendengar suara-suara gemuruh lirih, seakan-akan para malaikat sedang bertasbih mengelilingi kepala tersebut.

Gemetar melihat fenomena gaib tersebut, Sang Pendeta segera turun dari biaranya dan menghampiri para penjaga pasukan Yazid.

“Siapakah kalian?” tanya Pendeta itu.

“Kami adalah pasukan dari Ibnu Ziyad,” jawab mereka dengan angkuh.

Pendeta itu menunjuk ke arah tombak yang bersinar, “Dan kepala siapakah itu?”

Mereka menjawab, “Itu adalah kepala Al-Husain, cucu Muhammad, nabi orang Arab.”

Betapa terkejutnya Sang Pendeta. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin umat seorang Nabi tega membunuh cucu Nabinya sendiri.

Namun, ia menahan amarahnya karena ia memiliki satu keinginan, ia ingin memuliakan kepala suci itu meski hanya sebentar.

“Wahai tentara,” kata Pendeta, “Aku memiliki uang sebanyak 70 Dinar Emas (dalam riwayat lain disebut 10.000 Dirham). Aku akan berikan semuanya kepada kalian, dengan satu syarat: Izinkan aku membawa kepala ini ke dalam biaraku malam ini saja. Besok pagi saat kalian hendak berangkat, aku akan mengembalikannya.”

Mendengar tawaran emas yang begitu banyak, sifat serakah pasukan Yazid langsung muncul. Bagi mereka yang berperang demi dunia, tawaran itu terlalu menggiurkan untuk ditolak.

Mereka pun setuju: “Ambillah uangnya, dan bawa kepala itu. Tapi ingat, kembalikan saat fajar tiba.”

Sang Pendeta membawa kepala suci itu masuk ke dalam ruang ibadahnya yang paling hening. Ia meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas bantal sutra.

Dengan air mawar dan minyak wangi terbaik yang dimilikinya, ia membersihkan darah dan debu yang menempel di wajah tampan Imam Husain as.

Sambil menangis, Pendeta itu duduk bersimpuh di hadapan kepala tersebut. Ia merasakan aura kewibawaan yang luar biasa, aura yang hanya dimiliki oleh para Nabi dan orang-orang suci.

BACA JUGA: Mukjizat Imam Ali Ridha as

Di tengah keheningan malam yang syahdu itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang membekukan darahnya.

Bibir dari kepala yang terpenggal itu perlahan bergerak. Sebuah suara yang fasih dan merdu terdengar melantunkan ayat suci Al-Quran, Surah Al-Kahfi ayat 9:

“Am ḥasibta anna aṣḥābal-kahfi war-raqīmi kānụ min āyātinā ‘ajabā”

Artinya: “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”

Mendengar itu, Sang Pendeta tersungkur. Ia paham betul kisah Ashabul Kahfi (Pemuda Gua) yang tertidur ratusan tahun. Namun, kepala di hadapannya seolah ingin berkata: “Kisahku lebih ajaib daripada Ashabul Kahfi. Mereka tidur dan dijaga Allah, sedangkan aku dibantai oleh umat kakekku sendiri namun kepalaku tetap memuji Allah.”

Matahari pagi mulai terbit, menandakan waktu perjanjian telah habis. Dengan hati yang berat namun penuh keyakinan baru, Sang Pendeta membawa keluar kepala itu dan menyerahkannya kembali kepada pasukan Yazid.

Ia menyerahkan kantong berisi 70 Dinar Emas sesuai janjinya. Namun, sebelum pasukan itu pergi, Sang Pendeta menatap tajam ke arah mereka dan berkata dengan lantang:

“Demi Tuhan, alangkah buruknya apa yang kalian lakukan! Jika Nabi Isa as memiliki seorang cucu, niscaya kami orang Nasrani akan menjaganya di atas kelopak mata kami. Tapi kalian? Kalian membunuh cucu Nabi kalian sendiri!”

BACA JUGA: 5 Kisah Teladan Fatimah Az-Zahra yang Menggetarkan Hati

Di hadapan ribuan pasukan bersenjata itu, Sang Pendeta mengangkat telunjuknya ke langit dan berseru:

“Saksikanlah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Pendeta itu memilih meninggalkan agama lamanya dan memeluk Islam setelah melihat kebenaran yang nyata (Al-Haq) memancar dari kepala Imam Husain.

Kisah Pendeta Nasrani ini mengajarkan kita satu pelajaran berharga: Kebenaran itu bersifat universal.

Nur (cahaya) Imam Husain begitu terang hingga mampu menembus tembok perbedaan agama. Seorang Pendeta yang tidak pernah bertemu Nabi Muhammad SAW justru bisa melihat cahaya kenabian di wajah imam Husain, sementara pasukan Yazid yang mengaku Muslim justru buta mata hatinya karena tertutup cinta dunia.

Peristiwa ini membuktikan janji Allah bahwa siapa pun yang berjuang ikhlas di jalan-Nya, namanya tidak akan pernah mati.

Jasad Imam Husain mungkin hancur di Karbala, tapi suaranya tetap bergema melintasi zaman, memberi hidayah kepada siapa saja yang mau membuka hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *