Dalam setiap kisah kepahlawanan, selalu ada sosok pendamping setia yang berdiri tegak di samping sang tokoh utama. Jika Nabi Musa as memiliki Harun, dan Rasulullah SAW memiliki Ali bin Abi Thalib, maka di padang Karbala, Imam Husain as memiliki Abbas bin Ali.
Sosok Abbas bukanlah prajurit biasa. Beliau dikenal dengan julukan Qamar Bani Hasyim (Rembulan Bani Hasyim) karena ketampanan wajahnya dan postur tubuhnya yang gagah perkasa.
Dikatakan bahwa saat beliau menunggangi kuda yang besar sekalipun, kakinya masih menyentuh tanah karena tingginya perawakan beliau.
Namun, bukan kekuatan fisik yang membuat nama Abbas abadi hingga hari ini. Melainkan kesetiaan dan pengorbanan yang melampaui logika manusia.
Di Karbala, Abbas memegang peran paling penting sebagai Pemegang Panji (Alamdar). Selama bendera di tangan Abbas masih berkibar, semangat pasukan Imam Husain dan ketenangan hati para wanita di tenda tetap terjaga. Bagi anak-anak kecil, Abbas adalah paman yang menjanjikan rasa aman.
Kehebatan Abbas bin Ali di medan laga bukanlah sebuah kebetulan. Ia memang dicetak untuk menjadi pelindung.
Ayahnya, Imam Ali bin Abi Thalib as, pernah meminta saudaranya untuk mencarikan istri dari kabilah Arab yang paling pemberani dan kuat.
Pilihan itu jatuh pada Fatimah binti Hizam, yang kemudian dikenal dengan gelar Ummul Banin (Ibu para Putra).
Sejak kecil, Abbas telah dididik oleh ibunya dengan satu prinsip utama: “Wahai Abbas, engkau bukanlah sekadar saudara bagi Husain. Engkau adalah pelayan baginya. Jangan pernah biarkan Husain terluka selama engkau masih bernapas.”
Pendidikan inilah yang membentuk karakter baja dalam diri Abbas. Di Karbala, ia bukan hanya hadir sebagai adik, tapi sebagai benteng terakhir yang melindungi kehormatan keluarga Nabi.
Pada sore hari 10 Muharram, situasi di perkemahan Imam Husain semakin kritis. Pasokan air telah habis total selama tiga hari.
Suara tangisan anak-anak kecil yang menyerukan “Al-Atasy… Al-Atasy…” (Haus… Haus…) terdengar menyayat hati, membuat dada Abbas sesak menahan pedih.
Sebagai ksatria terkuat, darah Abbas mendidih. Ia menghadap Imam Husain dan memohon izin untuk maju ke medan perang guna menghabisi musuh. “Wahai kakakku, dadaku terasa sempit. Izinkan aku membalas perbuatan orang-orang munafik ini,” pinta Abbas.
Namun, Imam Husain menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Beliau tahu, jika Abbas maju berperang dan gugur, maka runtuhlah moral seluruh perkemahan. Imam Husain berkata:
“Wahai saudaraku, engkau adalah Pemegang Panjiku. Jika engkau pergi, maka bubarlah pasukanku. Namun, dengarlah tangisan anak-anak itu… Pergilah, dan mintalah sedikit air untuk mereka.”
Perintah ini mengubah misi Abbas. Bukan misi pembunuhan, melainkan misi kemanusiaan.
Tanpa ragu, Abbas memacu kudanya sambil membawa kantong air (qirbah) kosong dan panji di tangannya. Ia menerjang blokade 4.000 pasukan penjaga Sungai Efrat.
Bak seekor singa yang mengamuk, barisan musuh kocar-kacir ketakutan melihat kedatangan putra Ali bin Abi Thalib ini.
Hanya dalam sekejap, Abbas berhasil menembus kepungan dan memacu kudanya masuk ke dalam dinginnya air Sungai Efrat.
Suasana hening sejenak saat Abbas bin Ali sampai di bibir Sungai Efrat. Kuda tunggangannya mencelupkan kaki ke dalam air yang mengalir tenang.
Air itu tampak begitu bening dan sejuk, sangat kontras dengan panasnya udara gurun yang membakar tenggorokan.
Abbas sendiri sangat kehausan. Rasa hausnya sama parahnya dengan yang lain. Secara naluriah, ia menciduk air dengan kedua telapak tangannya.
Air yang dingin itu kini sudah berada tepat di depan mulutnya. Tinggal seteguk saja, rasa dahaga yang menyiksanya akan hilang.
Namun, di saat itulah bayangan wajah kakaknya, Imam Husain, dan wajah pucat anak-anak kecil yang sedang menunggu di tenda melintas di benaknya. Hati nuraninya berteriak keras.
Abbas menatap air di tangannya, lalu perlahan jari-jemarinya terbuka. Air itu jatuh kembali ke sungai, menyatu dengan alirannya. Ia berkata pada jiwanya sendiri:
“Wahai jiwaku, hinalah engkau jika engkau hidup setelah Husain tiada. Husain dan anak-anaknya sedang sekarat karena kehausan, sementara engkau hendak meminum air dingin ini? Demi Allah, ini bukanlah perbuatan orang yang setia dalam beragama.”
Ia mengisi kantong air (qirbah) itu hingga penuh, memanggulnya di bahu kanan, lalu memacu kudanya kembali ke medan perang dengan bibir yang tetap kering kerontang. Ia menang melawan hawa nafsunya sendiri.
Perjalanan kembali ke perkemahan menjadi perjalanan tersulit dalam hidup Abbas. Pasukan musuh menyadari bahwa jika air itu sampai ke tenda Ahlulbait, kekuatan Imam Husain akan bangkit kembali.
Maka, ribuan panah dan pedang kini tidak lagi diarahkan ke tubuh Abbas, melainkan ke arah kantong air yang dibawanya.
Abbas bertarung mati-matian bukan untuk melindungi nyawanya, tapi melindungi amanah air di bahunya.
Dalam kemelut pertempuran itu, seorang musuh yang bersembunyi di balik pohon kurma menebas tangan kanan Abbas hingga putus.
Tanpa peduli rasa sakit, Abbas dengan sigap memindahkan kantong air ke bahu kirinya. Ia terus melaju sambil berteriak:
“Demi Allah, meskipun kalian memotong tangan kananku, aku akan tetap membela agamaku!”
Tak lama kemudian, tangan kirinya pun ditebas. Kini, Sang Singa Karbala itu tidak lagi memiliki tangan. Namun tekadnya belum patah.
Ia menggigit tali kantong air itu dengan giginya dan memacu kudanya dengan kakinya, berusaha sekuat tenaga mencapai tenda anak-anak.
Namun, takdir berkata lain. Sebuah anak panah melesat dan menembus kantong air tersebut. Air yang berharga itu mengucur deras membasahi pasir Karbala, seiring dengan hancurnya harapan Abbas.
Saat itulah, Abbas merasa tubuhnya lemas. Bukan karena hilangnya kedua tangannya, tapi karena rasa malu yang mendalam karena gagal membawa air untuk Sukainah.
Ketika sebuah pukulan besi menghantam kepalanya, Abbas jatuh dari kudanya ke tanah tanpa ada tangan yang bisa menahan tubuhnya, seraya berteriak:
“Wahai Kakakku, tolonglah aku!”
Mendengar seruan minta tolong dari adiknya, Imam Husain as bergegas memacu kudanya menuju tempat jatuhnya Abbas. Diriwayatkan bahwa Imam Husain sampai di sana dengan kondisi yang sangat terpukul.
Ketika Imam melihat kondisi adiknya yang tanpa tangan, kepala terluka parah, dan mata tertembus panah, Imam Husain menjatuhkan dirinya di samping tubuh Abbas. Beliau meletakkan kepala adiknya di pangkuannya, membersihkan darah dan debu dari wajah tampan itu.
Dengan suara bergetar menahan tangis, Imam Husain mengucapkan kalimat yang paling memilukan dalam sejarah Karbala:
“Sekarang, patahlah punggungku… Dan berkuranglah upayaku… Dan musuh-musuhku kini merasa gembira melihat keadaanku.”
Kalimat ini menggambarkan betapa sentralnya posisi Abbas. Kehilangan Abbas bagi Imam Husain bukan sekadar kehilangan prajurit, tapi kehilangan separuh jiwanya.
Kini sang rembulan Bani Hasyim pun redup di pangkuan Matahari Karbala.
Wahai pecinta Ahlulbait, meskipun Abbas bin Ali gugur di Karbala dengan tangan terpotong, Allah SWT menggantinya dengan kemuliaan yang abadi.
Dalam sebuah riwayat, Imam Zainal Abidin as berkata:
“Sesungguhnya bagi Abbas di sisi Allah ada kedudukan (maqam) yang sangat tinggi, yang membuat seluruh syuhada iri kepadanya pada hari kiamat. Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap yang ia gunakan untuk terbang di surga bersama para malaikat.”
Karena pengorbanan dan loyalitasnya yang tanpa batas, Abbas bin Ali dikenal oleh umat Islam dengan gelar Babul Hawaij (Pintu Terkabulnya Hajat).
Jutaan orang yang mengalami kesulitan hidup sering bertawasul kepada Allah melalui perantara (wasilah) Abbas bin Ali, karena beliau dikenal sebagai sosok yang tidak tega menolak permintaan orang lain, sebagaimana beliau tidak tega mendengar permintaan air dari anak-anak kecil.
“Salam atasmu wahai Abul Fadhl Abbas, salam atas kesetiaanmu, dan salam atas pengorbananmu yang abadi.”

