7 Kisah Para Nabi Di Tanah Karbala

Penulis: Redaksi
Kamis, 05 Maret 2026 | 15.08 WITA · 58 Views
kisah para nabi di tanah karbala

Dalam lanskap sejarah dan teologi Islam, Tragedi Karbala memiliki kedudukan yang jauh melampaui batasan ruang dan waktu.

Peristiwa Asyura (gugurnya cucu kesayangan Rasulullah saw., Imam Husain as) bukanlah sebuah insiden historis yang terjadi secara kebetulan, melainkan sebuah ketetapan takdir agung yang telah disingkapkan oleh langit jauh sebelum peristiwa fisiknya terjadi.

Sepanjang perjalanan peradaban manusia, Allah Swt. telah membuka tabir duka Karbala kepada para utusan-Nya yang mulia.

Setiap kali para nabi melintasi hamparan tanah tersebut, teguran ilahiah dan alam semesta seakan memberikan isyarat, baik melalui rasa sesak di dada yang tiba-tiba menyergap, luka fisik yang menumpahkan darah, maupun kesaksian entitas alam semesta yang menolak diam.

Kesedihan, tetesan air mata, dan darah para utusan Tuhan ini mengalir semata-mata sebagai wujud penyelarasan spiritual dan penghormatan yang mendalam terhadap musibah terbesar yang kelak menimpa keluarga Penutup Para Nabi.

Rangkaian riwayat yang akan kami sebutkan dibawah ini menyuguhkan sebuah pemahaman bahwa duka Karbala adalah duka semesta, yang telah disaksikan dan ditangisi oleh para nabi sebelum sejarah mencatatnya.

1. Nabi Adam as

Dalam Kitab Bihar al-Anwar disebutkan bahwa ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau tidak langsung bertemu dengan Hawa.

Beliau pun mengelilingi bumi untuk mencarinya hingga akhirnya melintasi wilayah Karbala.

Di sana, tiba-tiba beliau merasa sangat sedih dan dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Beliau kemudian tersandung tepat di lokasi di mana Imam Husain kelak terbunuh, hingga kakinya terluka dan berdarah.

Nabi Adam menengadah ke langit dan memohon, “Wahai Tuhanku, apakah aku telah melakukan dosa lain sehingga Engkau menghukumku dengan kejadian ini? Sungguh, aku telah mengelilingi seluruh bumi, dan tidak ada satu pun keburukan yang menimpaku seperti yang kurasakan di tanah ini.”

Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Wahai Adam, tidak ada dosa baru yang engkau lakukan. Akan tetapi, di tanah inilah kelak anak cucumu, Al-Husain, akan dibunuh secara zalim. Maka, darahmu mengalir agar selaras dengan tumpahnya darahnya.”

Nabi Adam bertanya, “Wahai Tuhanku, apakah Al-Husain itu seorang nabi?”

Allah berfirman, “Bukan, ia adalah cucu dari Nabi Muhammad.”

Adam bertanya lagi, “Lalu, siapakah yang akan membunuhnya?”

Allah berfirman, “Pembunuhnya adalah Yazid, sosok yang dilaknat oleh seluruh penduduk langit dan bumi.”

Adam kemudian bertanya, “Lalu, apa yang harus aku lakukan, wahai Jibril?”

Jibril menjawab, “Laknatlah dia (Yazid), wahai Adam.”

Maka Adam pun melaknatnya sebanyak empat kali. Setelah itu, beliau kembali melangkah menuju Gunung Arafat dan akhirnya berhasil menemukan Hawa di sana.

Dalam kitab Ad-Durr Ats-Tsamin, terkait tafsir firman Allah Ta’ala:

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya, disebutkan bahwa Nabi Adam melihat tiang Arasy beserta nama-nama Nabi dan para Imam as.

Lalu Jibril menuntunnya untuk membaca doa ini:

يا حميد بحق محمد، يا عالي بحق علي، يا فاطر بحق فاطمة، يا محسن بحق الحسن والحسين ومنك الإحسان

“Wahai Yang Maha Terpuji (Ya Hamid) demi hak Muhammad, wahai Yang Maha Tinggi (Ya ‘Ali) demi hak Ali, wahai Yang Maha Pencipta (Ya Fathir) demi hak Fatimah, wahai Yang Maha Berbuat Baik (Ya Muhsin) demi hak Hasan dan Husain, dan dari-Mu lah segala kebaikan.”

Namun, ketika menyebut nama Al-Husain, air mata Nabi Adam menetes dan hatinya luluh. Beliau pun bertanya, “Wahai saudaraku Jibril, mengapa saat menyebut nama yang kelima ini hatiku hancur dan air mataku mengalir?”

Jibril menjawab, “Anakmu ini kelak akan ditimpa sebuah musibah besar, yang akan membuat musibah-musibah lain terasa kecil dan tidak berarti.”

Adam kembali bertanya, “Wahai saudaraku, musibah apakah itu?”

Jibril menjelaskan, “Ia akan dibunuh dalam keadaan sangat kehausan, terasing, sendirian, tanpa ada seorang pun penolong maupun pendukung. Seandainya engkau melihatnya, wahai Adam, saat ia berseru, ‘Aduhai, betapa hausnya! Aduhai, betapa sedikitnya penolongku!’, hingga rasa haus itu menghalangi pandangannya ke langit seakan tertutup oleh asap. Tidak ada yang menjawab seruannya kecuali dengan tebasan pedang dan maut. Ia akan disembelih dari arah belakang lehernya layaknya seekor domba. Kemah-kemahnya akan dijarah oleh musuh-musuhnya, dan kepala-kepala mereka (Husain dan para pengikutnya) akan diarak melintasi berbagai negeri bersama para wanita (keluarganya). Demikianlah ketetapan yang telah digariskan dalam ilmu Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pemberi Karunia.”

Mendengar hal itu, menangislah Adam dan Jibril layaknya tangisan seorang ibu yang kehilangan anak kesayangannya.

2. Nabi Nuh as

Ketika beliau menaiki bahteranya, bahtera tersebut membawanya berlayar mengelilingi seluruh dunia. Namun, saat melintasi wilayah Karbala, bumi seakan menahan dan mengguncang bahtera tersebut.

Nabi Nuh pun merasa cemas akan tenggelam, lalu beliau berdoa kepada Tuhannya seraya bermunajat: “Wahai Tuhanku, aku telah mengelilingi seluruh dunia, namun belum pernah aku ditimpa ketakutan hebat seperti yang kualami di tanah ini.”

Maka turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Nuh! Di tempat inilah kelak Al-Husain akan dibunuh. Ia adalah cucu dari Muhammad, sang Penutup para Nabi, dan putra dari sang Penutup para Washi (penerus wasiat dan kepemimpinan).”

Nuh bertanya: “Lalu, siapakah yang akan membunuhnya, wahai Jibril?”

Jibril menjawab: “Pembunuhnya adalah sosok yang dilaknat oleh para penghuni tujuh langit dan tujuh bumi.” Mendengar hal itu, Nuh pun melaknat sang pembunuh sebanyak empat kali. Setelah itu, bahtera tersebut kembali berlayar dengan tenang hingga akhirnya mencapai Gunung Judi dan berlabuh di sana.

3. Nabi Ibrahim as

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. pernah melintas di tanah Karbala sambil menunggangi seekor kuda. Tiba-tiba kudanya tersandung sehingga beliau terjatuh, kepalanya terluka, dan darahnya pun mengalir.

Beliau segera beristigfar dan bermunajat: “Wahai Tuhanku, dosa apakah yang telah aku perbuat?!”

Maka turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Ibrahim, tidak ada dosa yang engkau perbuat. Akan tetapi, di tempat inilah kelak cucu dari Penutup Para Nabi, putra dari Penutup Para Washiy, akan dibunuh. Maka darahmu mengalir agar selaras dengan tumpahnya darahnya.”

Ibrahim bertanya: “Wahai Jibril, siapakah pembunuhnya?”

Jibril menjawab: “Ia adalah sosok yang dilaknat oleh seluruh penghuni langit dan bumi.”

Nabi Ibrahim as kemudian menengadahkan kedua tangannya dan melaknat Yazid dengan laknatan yang bertubi-tubi.

Secara menakjubkan, kudanya pun mengaminkan doa tersebut dengan bahasa yang fasih.

Ibrahim lalu bertanya kepada kudanya: “Apa yang engkau ketahui hingga engkau turut mengaminkan doaku?”

Kuda itu menjawab: “Wahai Ibrahim, aku merasa sangat bangga saat engkau menunggangiku, namun ketika aku tersandung dan membuatmu terjatuh dari punggungku, aku merasa sangat terpukul dan malu.”

4. Nabi Ismail as

Diriwayatkan bahwa sekawanan domba milik Nabi Ismail digembalakan di tepi sungai Eufrat. Sang penggembala kemudian melapor kepadanya bahwa domba-domba tersebut tidak mau meminum air dari aliran itu sejak beberapa hari. Ismail pun memohon kepada Tuhannya untuk mengetahui sebabnya.

Turunlah Jibril dan berkata: “Wahai Ismail, tanyalah langsung kepada domba-dombamu, niscaya mereka akan menjawab alasan di balik hal itu.”

Ismail bertanya kepada kawanannya: “Mengapa kalian tidak mau meminum air ini?”

Domba-domba itu menjawab dengan bahasa yang fasih: “Telah sampai kabar kepada kami bahwa keturunanmu kelak, Al-Husain a.s., cucu dari Muhammad, akan dibunuh di sini dalam keadaan sangat kehausan. Maka kami menolak minum dari aliran ini sebagai wujud duka cita kami untuknya.”

Ismail bertanya lagi tentang pembunuhnya. Mereka menjawab: “Ia akan dibunuh oleh sosok yang dilaknat oleh penduduk langit, bumi, dan seluruh makhluk alam semesta.”

Nabi Ismail pun berdoa: “Ya Allah, laknatlah pembunuh Al-Husain a.s.”

5. Nabi Musa bin Imran as

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, Nabi Musa sedang berjalan menyusuri bumi bersama muridnya, Yusya’ bin Nun. Ketika mereka tiba di tanah Karbala, tali sandalnya tiba-tiba terputus, duri menusuk kakinya, dan darahnya mengalir.

BACA JUGA: Kisah Abbas bin Ali as, Sang Pemegang Panji di Karbala

Musa mengeluh: “Wahai Tuhanku, apa yang telah terjadi padaku?”

Allah mewahyukan kepadanya: “Di sinilah kelak Al-Husain a.s. akan dibunuh, dan di sinilah darahnya akan ditumpahkan. Maka darahmu mengalir agar selaras dengan tumpahnya darahnya.”

Musa bertanya: “Tuhanku, siapakah Al-Husain itu?”

Dikatakan kepadanya: “Ia adalah cucu dari Muhammad Al-Musthafa, dan putra dari Ali Al-Murtadha.”

Musa bertanya lagi: “Lalu, siapa pembunuhnya?”

Dikatakan kepadanya: “Ia adalah sosok yang dilaknat oleh ikan-ikan di lautan, binatang buas di padang belantara, dan burung-burung di udara.”

Nabi Musa pun mengangkat kedua tangannya, melaknat Yazid, dan mendoakan keburukan baginya. Yusya’ bin Nun mengaminkan doa tersebut, dan setelah itu Musa melanjutkan perjalanannya.

6. Nabi Sulaiman as

Diriwayatkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. sedang duduk di atas permadaninya, melayang di udara. Suatu hari, saat beliau melintas di atas tanah Karbala, angin tiba-tiba memutar permadaninya sebanyak tiga kali hingga beliau merasa takut akan terjatuh. Kemudian angin pun mereda, dan permadani itu mendarat di tanah Karbala.

Nabi Sulaiman bertanya kepada angin: “Mengapa engkau berhenti berhembus?”

Angin menjawab: “Sesungguhnya di tempat inilah kelak Al-Husain a.s. akan dibunuh.”

Beliau bertanya: “Siapakah Al-Husain itu?”

Angin menjawab: “Ia adalah cucu dari Muhammad Al-Mukhtar (yang terpilih), dan putra dari Ali Al-Karrar (yang pantang menyerah).”

Beliau bertanya lagi: “Lalu, siapakah pembunuhnya?”

Angin menjawab: “Sosok yang dilaknat oleh penduduk langit dan bumi, Yazid.”

Nabi Sulaiman pun mengangkat kedua tangannya, melaknat Yazid, dan mendoakan keburukan baginya. Seluruh manusia dan jin yang bersamanya turut mengaminkan doa tersebut. Setelahnya, angin kembali berhembus dan permadani pun kembali melaju.

7. Nabi Isa as

Diriwayatkan bahwa Nabi Isa as sedang mengembara di padang belantara bersama para Hawariyyun (murid-murid setianya). Ketika melintasi wilayah Karbala, mereka melihat seekor singa buas yang duduk menghalangi jalan.

Nabi Isa as melangkah maju mendekati singa tersebut dan bertanya: “Mengapa engkau duduk menghalangi jalan ini dan tidak membiarkan kami lewat?!”

Singa itu menjawab dengan bahasa yang fasih: “Aku tidak akan membiarkan kalian melewati jalan ini sampai kalian melaknat Yazid, pembunuh Al-Husain as.”

Nabi Isa a.s. bertanya: “Siapakah Al-Husain itu?”

Singa itu menjawab: “Ia adalah cucu dari Muhammad sang Nabi yang Ummi, dan putra dari Ali sang Wali.”

BACA JUGA: Mukjizat Imam Ali Ridha as

Beliau bertanya lagi: “Lalu, siapakah pembunuhnya?”

Singa itu menjawab: “Pembunuhnya adalah sosok yang dilaknat oleh seluruh binatang buas, serigala, dan pemangsa lainnya, terutama pada hari-hari Asyura.”

Maka Nabi Isa as pun mengangkat kedua tangannya, melaknat Yazid, dan mendoakan keburukan baginya.

Para Hawariyyun turut mengaminkan doa tersebut. Setelah itu, singa tersebut menyingkir dari jalan mereka, dan mereka pun dapat melanjutkan perjalanannya.

Disadur dari Maqtal al-Imam al-Husain karya Sheikh Muhammad Rida al-Tabasi al-Najafi, halm. 97-102.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *