Bagi para pecinta Ahlulbait, hari Asyura bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan hari duka cita semesta. Di antara sekian banyak teks ziarah kepada Imam Husain as, terdapat satu ziarah yang kedudukannya sangat istimewa dan menyayat hati. Ziarah itu dikenal dengan nama Ziarah Nahiyah Muqaddasah.
Berbeda dengan Ziarah Warits atau Ziarah Asyura yang diajarkan oleh Imam Baqir atau Imam Shadiq, Ziarah Nahiyah diyakini berasal langsung dari Imam Mahdi afs.
Ini bukan sekadar doa, melainkan sebuah ratapan kerinduan seorang cucu (Imam Mahdi) yang menyaksikan melalui ilmu ilahiah detik-detik pembantaian kakeknya (Imam Husain) di padang Karbala.
Apa rahasia di balik ziarah ini? Dan mengapa kalimat-kalimat di dalamnya begitu menggambarkan tragedi tersebut?
1. Apa Itu Nahiyah Al-Muqaddasah?
Secara bahasa, An-Nahiyah berarti “Sisi” atau “Wilayah”, dan Al-Muqaddasah berarti “Yang Suci”. Istilah ini digunakan oleh ulama Syiah terdahulu sebagai kode untuk merujuk kepada Imam Mahdi afs di masa keghaiban, demi menjaga keselamatan beliau dari intelijen musuh.
Jadi, Ziarah Nahiyah adalah ziarah yang keluar dari “Sisi Suci” sang Imam Zaman. Ziarah ini diriwayatkan oleh salah satu wakil khusus beliau dan tercatat dalam kitab-kitab seperti Al-Mazar Al-Kabir karya Ibnu Masyhad dan dikutip oleh Sayyid Ibnu Thawus.
Ikrar Menangis Darah
Bagian yang paling masyhur dan menggetarkan dari ziarah ini adalah ungkapan kesedihan Imam Mahdi yang mendalam.
Beliau tidak hanya menangis air mata, tapi berikrar menangis darah.
فَلَأَنْدُبَنَّكَ صَباحاً وَ مَساءً وَ لَأَبْكِيَنَّ عَلَيْكَ بَدَلَ الدُّمُوعِ دَماً
“Maka aku sungguh akan meratapimu setiap pagi dan petang… Dan aku sungguh akan menangisimu dengan darah sebagai ganti air mata…”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa tragedi Karbala adalah musibah terbesar yang tidak pernah kering lukanya di hati Imam Mahdi, meskipun ribuan tahun telah berlalu.
Beliau memohon maaf kepada kakeknya karena terlambat lahir ke dunia sehingga tidak bisa membelanya di Karbala.
Ziarah Sekaligus Maqtal
Keunikan dari Ziarah Nahiyah Muqaddasah dibanding ziarah lain adalah detailnya yang sangat deskriptif.
Saat kita membaca ziarah ini seolah-olah kita sedang membaca kitab Maqtal (kronologi ke syahidan).
Imam Mahdi menggambarkan kondisi fisik Imam Husain dengan sangat rinci, yang membuat siapa saja yang membacanya merinding.
Imam Mahdi menggambarkan saat kuda tunggangan Imam Husain (Dzuljannah) kembali ke perkemahan dalam keadaan kosong dan berlumuran darah:
“Dan kuda itu berlari menuju perkemahanmu, meringkik dan menangis… Ketika para wanita melihat kuda itu terhina dan pelananya terbalik… mereka keluar dari tenda dengan rambut terurai, memukul-mukul pipi mereka… menuju tempat pembantaianmu.”
Saat Imam Mahdi menggambarkan bagaimana kondisi anggota tubuh kakeknya:
“Salam kepada anggota badan yang terpotong-potong… Salam kepada kepala yang ditancapkan di tombak… Salam kepada gigi-gigi yang dipukul dengan tongkat… Salam kepada dada yang diinjak-injak oleh kuda…”
Imam Mahdi seolah ingin memberitahu, “Lihatlah, seperti inilah biadabnya perlakuan mereka terhadap kakekku.”
Isi dan Kandungan Ziarah
Ziarah ini memiliki struktur yang unik dan sangat emosional. Berdasarkan naskah yang ada, isinya terbagi menjadi beberapa bagian:
- Salam kepada Para Nabi: Dimulai dengan salam kepada 24 nabi dan 5 manusia suci (Ahlul Kisa) beserta sifat-sifat utama mereka.
- Salam kepada Imam Husain: Menyebutkan nama, nasab, dan keutamaan beliau.
- Gambaran Karbala (Maqtal): Ini adalah bagian inti. Ziarah ini menguraikan latar belakang kebangkitan, gambaran detil kesyahidan, hingga penderitaan fisik yang dialami Imam as.
- Duka Cita Semesta: Menggambarkan bagaimana seluruh makhluk dan alam semesta berduka atas wafatnya Cucu Nabi.
- Penutup: Diakhiri dengan tawasul dan doa.
Keutamaan Imam Husain as dalam Ziarah Nahiyah Muqaddasah
Salah satu aspek teologis yang menarik dari Ziarah Nahiyah Muqaddasah adalah penegasan tentang Empat Keistimewaan yang Allah berikan khusus kepada Imam Husain as.
1. Kesembuhan (Syifa’) di Dalam Tanah Kuburnya (Turbah)
“Asy-Syifa fi Turbatihi”
Ziarah ini menegaskan bahwa Allah SWT meletakkan berkah penyembuhan pada tanah Karbala (Turbah Husainiyah).
Dalam fiqih Syiah, memakan tanah hukumnya haram, kecuali tanah kubur Imam Husain (seukuran sebutir kacang) yang diniatkan untuk istisyfa (memohon kesembuhan).
Tanah ini dianggap suci karena telah bercampur dengan darah suci yang tumpah demi menegakkan agama Allah. Ini adalah simbol bahwa pengorbanan beliau memberikan kehidupan dan kesembuhan bagi jiwa-jiwa yang sakit.
2. Terkabulnya Doa di Bawah Kubahnya
“Wal Ijabatu tahta Qubbatihi”
Tempat di mana jasad suci Imam Husain bersemayam (di bawah kubah/kizwah makam) memiliki kedudukan istimewa sebagai tempat Mustajab.
Para ulama menjelaskan bahwa karena Imam Husain telah memberikan segala yang dimilikinya untuk Allah, maka Allah membalasnya dengan tidak menolak permintaan hamba-Nya yang berdoa di sisi kekasih-Nya itu.
Di bawah kubah itulah, pintu langit terbuka lebar bagi para peziarah yang bermunajat.
3. Keberlanjutan Imamah dari Garis Keturunannya
“Wal Aimmatu min Dzurriyyatihi”
Ziarah ini menggarisbawahi fakta sejarah dan teologis bahwa garis kepemimpinan Ilahi (Imamah) berlanjut melalui keturunan Imam Husain as.
Meskipun Imam Hasan as juga cucu Nabi, namun Allah mentakdirkan bahwa sembilan Imam maksum berikutnya (mulai dari Imam Ali Zainal Abidin as hingga Imam Mahdi afs) lahir dari tulang sulbi Imam Husain.
Beliau bukan hanya pemimpin di zamannya, tapi juga “Ayah bagi para Imam” penjaga agama.
4. Pewaris Darah Suci Nabi, Ali, dan Fatimah
“Ibnu Khatamin Nabiyyin, wa Ibnu Sayyidil Washi-yyin, wa Ibnu Zahra”
Keutamaan terakhir menegaskan kemuliaan nasab yang tiada tanding. Beliau adalah intisari dari Ashab al-Kisa (Lima Manusia Suci).
Dalam dirinya mengalir darah kenabian Muhammad saw, keberanian Ali bin Abi Thalib as, dan kesucian Fatimah Az-Zahra sa.
Ziarah ini ingin mengingatkan bahwa siapa yang memerangi Husain, sejatinya sedang memerangi Rasulullah, Ali, dan Fatimah sekaligus.
Sanad dan Jalur Periwayatan
Validitas sebuah doa atau ziarah dalam tradisi Syiah sangat bergantung pada Sanad (jalur periwayatan) dan kitab rujukan yang memuatnya.
1. Kitab Al-Mazar Al-Kabir
Sumber yang memuat teks lengkap ziarah ini adalah kitab Al-Mazar Al-Kabir karya Syaikh Muhammad bin Ja’far Al-Masyhadi (atau dikenal dengan Ibnu Masyhadi), seorang ulama besar yang wafat pada tahun 610 Hijriah.
Dalam mukadimah kitabnya, Ibnu Masyhadi memberikan pernyataan penting yang menjadi pegangan para ulama:
“Aku hanya mengutip dalam kitab ini riwayat-riwayat yang sampai kepada para Sadat (Imam Maksum) melalui perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya).”
Pernyataan ini dianggap oleh sebagian ulama hadis (seperti Syaikh Hurr Al-Amili dan Muhaddis Nuri) sebagai Tautsiq ‘Am (Penegasan Umum).
Artinya, penulis menjamin bahwa semua riwayat di dalamnya, termasuk Ziarah Nahiyah, berasal dari jalur yang bisa dipertanggungjawabkan validitasnya.
2. Riwayat Syaikh Al-Mufid
Selain Ibnu Masyhadi, Allamah Al-Majlisi dalam ensiklopedianya, Bihar al-Anwar, juga mengutip ziarah ini. Menariknya, Allamah Majlisi menukilnya dari kitab Al-Mazar karya Syaikh Al-Mufid (W. 413 H).
Namun, jika kita membuka cetakan kitab Al-Mazar karya Syaikh Mufid yang beredar saat ini, teks Ziarah Nahiyah tidak ditemukan di dalamnya.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Allamah Majlisi memiliki naskah manuskrip Al-Mazar versi kuno yang lebih lengkap dibanding naskah yang sampai ke tangan penerbit masa kini. Hal ini wajar terjadi dalam penyalinan naskah turats berusia ribuan tahun.
3. Dari Nahiyah AS
Dalam naskah aslinya di Al-Mazar Al-Kabir, tidak disebutkan secara eksplisit kalimat “Berkata Imam Mahdi…”. Teks tersebut hanya tertulis:
“Ziarah ini diriwayatkan dari An-Nahiyah Alaihissalam…”
Para ulama menafsirkan istilah ini dengan melihat konteks sejarah. Karena Ibnu Masyhadi mengutipnya sebagai amalan dari “Nahiyah” (Kode untuk Imam Zaman), maka diyakini kuat bahwa ziarah ini dituturkan oleh Imam Mahdi afs kepada salah satu dari Empat Wakil Khususnya pada masa Ghaibah Sughra, atau kepada ulama terpilih yang memiliki akses kepada beliau, untuk kemudian diajarkan kepada umat Syiah sebagai cara berduka untuk Imam Husain.
Terlepas dari semua itu, Ziarah Nahiyah Muqaddasah tetap menjadi salah satu teks munajat yang paling agung dan populer di kalangan Syiah.
Ia adalah jendela waktu yang membawa pembacanya hadir langsung di Karbala, merasakan pedihnya luka Imam Husain, dan menyambungkan hati dengan kesedihan Imam Mahdi afs.

