Bacaan Lafadz Adzan dan Iqomah Syiah Ahlulbait Lengkap Arab, Latin dan Artinya

Penulis: Redaksi
Sabtu, 28 Februari 2026 | 09.47 WITA · 179 Views
lafadz adzan dan iqamah syiah

Suara adzan adalah panggilan suci yang menyatukan umat Islam di seluruh belahan dunia. Lima kali dalam sehari, seruan tauhid ini mengangkasa, mengajak manusia untuk sejenak melepaskan urusan duniawi dan menghadap Sang Pencipta.

Namun, bagi sebagian umat Islam di Indonesia yang mungkin baru pertama kali mendengar adzan di komunitas pengikut Ahlulbait (Syiah), atau saat berkunjung ke negara-negara seperti Iran dan Irak, sering kali mereka menyadari ada lantunan kalimat yang terdengar berbeda dari adzan yang umum berkumandang di tanah air.

Telinga kita mungkin akan menangkap seruan asing seperti “Hayya ‘ala Khairil ‘Amal”, atau mendengar kesaksian ketiga (Syahadat Tsalitsah) yang menyebut nama Imam Ali bin Abi Thalib as.

Perbedaan ini tak jarang memunculkan tanda tanya besar di benak orang awam: “Apakah adzan ini diubah? Mengapa ada tambahan kalimat? Apakah ini menyalahi sunnah Nabi? Dan bagaimana sebenarnya teks lengkapnya?”

Minimnya literatur berbahasa Indonesia yang membahas hal ini secara objektif sering kali berujung pada kesalahpahaman dan prasangka (suudzon). Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, setiap perbedaan mazhab selalu memiliki landasan historis dan argumentasi fikih yang kokoh.

Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, artikel ini akan membedah secara tuntas, ilmiah, dan objektif mengenai lafaadz adzan dan iqamah dalam mazhab Ahlulbait.

Kita tidak hanya akan melihat susunan kalimat Arab dan terjemahannya, tetapi juga akan menyelami sejarah, filosofi, dan dalil di balik setiap bait panggilan suci tersebut.

Bacaan Lafadz Adzan dalam Mazhab Syiah

Berikut adalah susunan kalimat Adzan yang dikumandangkan oleh pengikut madzhab Syi’ah Ahlulbait. Perhatikan lafadz di bawah ini untuk melihat urutan, teks Arab, bacaan Latin, dan terjemahannya:

اللَّهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar
Allah Maha Besar (4x)

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Asyhadu an la ilaha illallah
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah (2x)

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah
Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah (2x)

أَشْهَدُ أَنَّ عَلِيًّا وَلِيُّ اللَّهِ
Asyhadu anna Aliyyan Waliyullah
Aku bersaksi Ali adalah kekasih (Wali) Allah (2x)

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Hayya ‘alash-shalah
Marilah mendirikan shalat (2x)

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Hayya ‘alal-falah
Marilah menuju kemenangan (2x)

حَيَّ عَلَىٰ خَيْرِ الْعَمَلِ
Hayya ‘ala khairil ‘amal
Marilah menuju amal yang paling baik (2x)

اللَّهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar
Allah Maha Besar (2x)

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
La ilaha illallah
Tiada Tuhan selain Allah (2x)

Catatan Penting: Kalimat kesaksian ketiga, yaitu “Asyhadu anna Aliyyan Waliyullah” (Aku bersaksi bahwa Ali adalah Wali Allah), bukanlah bagian wajib (rukun) dari Adzan maupun Iqamah.

Para ulama Syiah sepakat bahwa kalimat ini dibaca dengan niat sunnah (mendapat pahala tambahan) dan tabarruk (mencari keberkahan), sama halnya seperti anjuran bersalawat saat nama Nabi Muhammad SAW disebut.

Jika seseorang beradzan tanpa menyebutkan kalimat ini, adzannya tetap sah sempurna.

Bacaan Lafadz Iqamah dalam Mazhab Syiah

Susunan Iqamah pada dasarnya sangat mirip dengan Adzan, namun dengan ritme yang lebih cepat dan beberapa perbedaan pada jumlah pengulangan serta penambahan kalimat tanda shalat dimulai.

اللَّهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar
Allah Maha Besar (2x)

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Asyhadu an la ilaha illallah
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah (2x)

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah
Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah (2x)

أَشْهَدُ أَنَّ عَلِيًّا وَلِيُّ اللَّهِ
Asyhadu anna Aliyyan Waliyullah
Aku bersaksi Ali adalah kekasih (Wali) Allah (2x)

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Hayya ‘alash-shalah
Marilah mendirikan shalat (2x)

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Hayya ‘alal-falah
Marilah menuju kemenangan (2x)

حَيَّ عَلَىٰ خَيْرِ الْعَمَلِ
Hayya ‘ala khairil ‘amal
Marilah menuju amal yang paling baik (2x)

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
Qad qamatis-shalah
Sungguh shalat telah didirikan (2x)

اللَّهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar
Allah Maha Besar (2x)

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
La ilaha illallah
Tiada Tuhan selain Allah (1x)

Perbedaan Adzan Syiah dan Ahlussunah

Jika kita membandingkan lafadz adzan di atas dengan adzan yang biasa berkumandang di sebagian besar negara Islam saat ini, terdapat beberapa perbedaan teks yang sangat mencolok.

Bagi pengikut mazhab Ahlulbait, perbedaan ini bukanlah sebuah “bid’ah” atau karangan baru, melainkan bentuk penjagaan terhadap kemurnian syariat awal.

Mari kita bedah alasannya dari sudut pandang sejarah dan fikih:

1. Hilangnya Kalimat Hayya ‘ala Khairil ‘Amal

Setelah seruan menuju kemenangan (Hayya ‘alal-falah), muazin dalam tradisi Syiah akan menyerukan “Hayya ‘ala Khairil ‘Amal” yang berarti “Marilah menuju amal yang paling baik”.

Banyak masyarakat awam yang mengira kalimat ini adalah tambahan buatan orang Syiah. Faktanya, literatur sejarah mencatat bahwa kalimat ini adalah bagian asli dari adzan di masa hidup Rasulullah SAW.

Bahkan, beberapa kitab sejarah dan hadis lintas mazhab (termasuk riwayat dari beberapa sahabat besar) mengonfirmasi bahwa kalimat ini pernah dibaca pada masa awal Islam.

Lantas, mengapa kalimat ini hilang dari adzan mayoritas umat Islam saat ini?

Catatan sejarah menyebutkan bahwa penghapusan kalimat ini terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Saat itu, wilayah Islam sedang menghadapi ekspansi militer besar-besaran.

Terdapat kekhawatiran dari pihak khalifah bahwa jika rakyat terus-menerus mendengar seruan “shalat adalah amal yang paling baik”, semangat mereka untuk pergi berjihad (berperang membela negara) akan luntur dan mereka lebih memilih berdiam diri di masjid.

Atas dasar pertimbangan militer dan sosial inilah, kalimat tersebut diinstruksikan untuk tidak dibaca lagi.

Namun, dalam kacamata fikih Ahlulbait, urusan ibadah mahdhah (seperti adzan dan shalat) bersifat Tauqifi, artinya mutlak harus sesuai dengan wahyu dan tidak bisa diubah oleh campur tangan kebijakan manusia, apa pun alasannya.

Oleh karena itu, para Imam Ahlulbait as memerintahkan pengikutnya untuk tetap mengumandangkan adzan persis seperti di zaman Rasulullah SAW.

2. Kesaksian Ketiga: Asyhadu anna Aliyyan Waliyullah

Perbedaan kedua yang sering memicu perdebatan adalah penyebutan nama Imam Ali bin Abi Thalib as setelah kesaksian kerasulan Nabi Muhammad SAW. Kesaksian ini dikenal dengan istilah Syahadah Tsalitsah (Kesaksian Ketiga).

Seperti yang telah disinggung pada catatan pembahasan di atas, poin paling krusial yang harus dipahami adalah Kalimat ini BUKAN bagian wajib (rukun) dari adzan.

Lalu, mengapa selalu dibaca?

Dalam tradisi keilmuan Syiah, membaca kalimat ini dihukumi sebagai Istihbab (sunnah/dianjurkan) dengan tujuan Tabarruk (mencari keberkahan). Ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an dan hadis di mana penyebutan nama Nabi Muhammad SAW selalu bergandengan erat dengan penegasan posisi Imam Ali as sebagai penerusnya.

Secara historis, tradisi menyuarakan nama Imam Ali di adzan ini mulai menguat ketika Dinasti Umayyah berkuasa.

Pada masa itu, terdapat instruksi sistematis dari penguasa untuk melaknat dan mencaci maki Imam Ali as dari atas mimbar-mimbar masjid di seluruh wilayah Islam.

Sebagai bentuk perlawanan dan penegasan loyalitas (Wilayah), para pecinta Ahlulbait menjadikan momen adzan sebagai media untuk meneriakkan kemuliaan Imam Ali as, menetralkan propaganda penguasa zalim.

3. Mengapa Tidak Ada Ash-Shalatu Khairun Minan Naum?

Pada waktu adzan Subuh, umat Islam Sunni umumnya menambahkan kalimat Tathwib, yaitu “Ash-shalatu khairun minan naum” (Shalat lebih baik daripada tidur).

Anda tidak akan menemukan kalimat ini dalam adzan Subuh penganut mazhab Syiah. Alasannya kembali pada prinsip Tauqifi yang disebutkan sebelumnya.

Berdasarkan riwayat yang dipegang teguh oleh para Imam Ahlulbait, kalimat tersebut tidak pernah diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW dalam syariat adzan yang pertama kali turun.

Panggilan adzan dianggap sebagai teks suci yang sudah sempurna rancangannya dari langit, sehingga pengikut Ahlulbait mencukupkan diri dengan redaksi asli tanpa menambahkannya.

Kesimpulan

Perbedaan redaksi adzan dan iqamah antara mazhab Ahlulbait dan mazhab lainnya tidak semestinya menjadi bahan perdebatan kusir yang menguras energi umat. Setelah menelusuri literatur sejarah dan fikih, kita bisa memahami bahwa perbedaan ini murni berakar pada upaya menjaga kemurnian teks yang diturunkan pada masa awal Islam, serta sebagai bentuk pelestarian jejak sejarah perjuangan para Imam.

Bagi pengikut Ahlulbait, adzan bukan sekadar penanda masuknya waktu shalat. Di dalamnya terdapat penegasan tauhid yang murni, pengakuan atas risalah Nabi Muhammad SAW, kesetiaan kepada penerus sahnya, serta ajakan untuk melakukan amal yang paling utama.

Pada hakikatnya, adzan adalah seruan yang menyatukan. Ketika muazin menyerukan “Allahu Akbar”, segala sekat perbedaan mazhab seharusnya luruh.

Umat Islam sama-sama membasuh wajah dalam wudhu, sujud kepada Tuhan yang Satu, menghadap kiblat yang sama, dan membawa kerinduan yang seragam kepada Sang Pencipta.

Memahami akar perbedaan justru akan melahirkan sikap saling menghormati, menjauhkan kita dari prasangka, dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *