Tanggal 3 Sya’ban adalah hari yang istimewa bagi langit dan bumi. Pada hari inilah, rumah suci Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib kembali bersinar dengan kehadiran putra kedua mereka. Dia adalah Imam Husain as, cucu kesayangan Rasulullah SAW.
Namun, kelahiran Imam Husain berbeda dengan kelahiran bayi pada umumnya. Di balik senyum bahagia Rasulullah saat menimang sang bayi, tersimpan butiran air mata yang jatuh membasahi pipi beliau.
Asal-Usul dan Arti Nama Husain
Salah satu keistimewaan kelahiran cucu Rasulullah SAW ini terletak pada proses pemberian namanya. Tidak seperti bayi pada umumnya yang disiapkan nama oleh orang tuanya jauh-jauh hari, nama “Husain” adalah nama yang turun langsung dari Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril.
Diriwayatkan, ketika bayi suci itu lahir, Rasulullah SAW bertanya kepada menantunya, Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali, apakah engkau sudah memberinya nama?”
Dengan penuh adab dan tawadhu, Imam Ali as menjawab: “Aku tidak akan mendahuluimu dalam memberikan nama, wahai Rasulullah.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW pun bersabda: “Dan aku pun tidak akan mendahului Tuhanku dalam memberinya nama.”
Tak lama berselang, Malaikat Jibril as turun membawa wahyu. Jibril menyampaikan salam dari Allah SWT dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya kedudukan Ali di sisimu adalah sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa. Maka berilah nama anak ini dengan nama anak Harun.”
Rasulullah bertanya, “Siapa nama anak Harun?”
Jibril menjawab, “Namanya adalah Syubair.”
Rasulullah merespons, “Bahasaku adalah bahasa Arab (bukan Ibrani).”
Maka Jibril berkata, “Panggillah dia dengan nama Al-Husain.”
Makna di Balik Nama Husain
Secara bahasa, arti nama Husain (حسين) adalah bentuk tashghir (diminutif/pengecilan sayang) dari kata Hasan.
Jika Hasan berarti “Yang Baik” atau “Yang Indah”, maka Husain bermakna “Kebaikan Kecil yang Indah” atau “Sang Pemilik Kebaikan”.
Para sejarawan mencatat sebuah fakta menarik bahwa nama Hasan dan Husain adalah nama yang belum pernah digunakan oleh bangsa Arab di masa Jahiliyah maupun masa sebelumnya.
Ini adalah nama yang Allah simpan khusus di Lauhul Mahfuz untuk dihadiahkan kepada dua cucu kesayangan Nabi Akhir Zaman.
Kisah Malaikat Fitrus di hari Kelahiran Imam Husain
Di antara sekian banyak keajaiban yang mengiringi kelahiran Imam Husain as, kisah tentang Malaikat Fitrus adalah yang paling masyhur. Kisah ini mengajarkan kita tentang besarnya kemuliaan cucu Rasulullah SAW di hadapan penghuni langit.
Diriwayatkan dalam kitab-kitab sejarah, Fitrus adalah salah satu malaikat Allah yang pernah mengalami nasib malang.
Suatu ketika, ia sedikit terlambat (menunda) dalam menjalankan sebuah perintah Allah SWT. Akibat kelalaian itu, Allah mematahkan sayapnya dan mengasingkannya ke sebuah pulau terpencil di tengah lautan.
Bertahun-tahun lamanya Fitrus beribadah di pulau itu dalam keadaan tidak berdaya, tanpa sayap, dan penuh penyesalan, menanti datangnya ampunan dari Sang Pencipta.
Tepat pada tanggal 3 Sya’ban, Fitrus melihat rombongan besar malaikat yang dipimpin oleh Jibril as turun dari langit dengan cahaya yang benderang.
Fitrus bertanya kepada Jibril: “Wahai Jibril, hendak ke manakah engkau?”
Jibril menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengaruniakan seorang putra bagi Muhammad SAW. Aku diutus Allah untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya.”
Mendengar itu, timbul harapan di hati Fitrus. Ia memohon: “Wahai Jibril, bawalah aku bersamamu. Aku ingin meminta berkah dari bayi suci itu dan memohon kepada Muhammad agar mendoakanku di hadapan Allah.”
Jibril pun mengizinkan Fitrus ikut serta nebeng dalam rombongan tersebut menuju rumah Nabi di Madinah.
Sesampainya di hadapan Rasulullah SAW, Jibril menyampaikan kondisi Fitrus. Rasulullah kemudian bersabda: “Wahai Fitrus, usapkanlah tubuhmu (sayapmu yang patah) ke badan bayi ini.”
Dengan penuh takzim, Fitrus mendekati ayunan Imam Husain as. Ia mengusapkan sisa sayapnya yang patah tersebut ke bayi suci tersebut.
Seketika itu juga, atas izin Allah dan berkat kemuliaan Imam Husain, sayap Fitrus tumbuh kembali! Ia sembuh total seperti sedia kala.
Fitrus terbang kembali ke langit dengan penuh sukacita sambil memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi serta keluarganya.
Sebelum meninggalkan bumi, Fitrus bersumpah sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada sang “Penyembuh”. Ia berkata kepada Rasulullah SAW:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya umatmu kelak akan membunuh bayi ini. Namun, sebagai ganti atas apa yang ia berikan padaku hari ini, aku berjanji Tidak ada seorang pun yang berziarah ke makamnya, mengucapkan salam kepadanya, atau mendoakannya, kecuali aku sendiri yang akan menyampaikan salam dan doa itu kepadanya.”
Maka dari itu, wahai pecinta Ahlulbait, setiap kali Anda meletakkan tangan di dada dan mengucapkan “Assalamu’alaika Ya Aba Abdillah” dari kejauhan, ketahuilah bahwa ada Malaikat Fitrus yang dengan setia mengantarkan rindu Anda langsung ke Karbala.
Tanah Merah di Tangan Nabi
Biasanya, kelahiran seorang bayi disambut dengan tawa bahagia dan pesta. Namun, suasana berbeda terjadi di kediaman Rasulullah SAW pada 3 Sya’ban tahun ke-4 Hijriyah itu.
Di tengah kebahagiaan memimang cucu keduanya, para sahabat dan istri Nabi dikejutkan oleh suara isak tangis Rasulullah SAW yang begitu memilukan.
Diriwayatkan, saat Rasulullah sedang menciumi leher dan tubuh mungil Imam Husain dengan penuh kasih sayang, Malaikat Jibril as kembali turun menemui beliau.
Namun kali ini, Jibril tidak membawa senyuman, melainkan membawa segenggam tanah berwarna merah.
Rasulullah SAW bertanya, “Apa ini wahai Jibril?”
Jibril menjawab dengan nada lirih:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya umatmu kelak akan membunuh anakmu ini. Dan tanah ini adalah tanah dari tempat di mana ia akan dibunuh dan darahnya akan ditumpahkan.”
Jibril menyebut tempat itu dengan nama Karbala (Tanah Keributan dan Bencana).
Mendengar kabar langit itu, Rasulullah SAW mendekap erat Imam Husain ke dadanya sambil menangis tersedu-sedu, hingga air mata beliau membasahi janggut dan pipi sang bayi.
Beliau bersabda: “Ya Allah, janganlah Engkau berkahi mereka yang membunuhnya, dan jangan Engkau beri mereka syafaatku.”
Rasulullah kemudian menyerahkan tanah merah tersebut kepada istrinya, Ummu Salamah ra, untuk disimpan di dalam sebuah botol kaca. Beliau berpesan:
“Wahai Ummu Salamah, simpanlah tanah ini. Kelak, jika engkau melihat tanah di dalam botol ini berubah menjadi darah segar yang mengalir, maka ketahuilah bahwa saat itu anakku Husain telah syahid.”
Sejarah mencatat, 57 tahun kemudian, tepat pada sore hari Asyura 10 Muharram 61 H, Ummu Salamah melihat botol itu berisi darah, dan menjeritlah ia menyadari bahwa cucu Nabi telah tiada.
Kisah tanah merah ini menegaskan bahwa Imam Husain as bukanlah manusia biasa. Sejak hari pertama ia menghirup udara dunia, takdirnya sebagai Sayyidus Syuhada (Penghulu para Syahid) telah digariskan.
Ia lahir bukan untuk menikmati kemewahan dunia, melainkan untuk mempersembahkan darah sucinya demi tegaknya agama kakeknya, Nabi Muhammad SAW.
Tangisan Nabi di hari kelahiran Husain mengajarkan kita bahwa mencintai Husain adalah satu paket dengan kesedihan atas musibah yang menimpanya.
Menghidupkan 3 Sya’ban melalui Amalan-Amalan Penuh Berkah
Merayakan kelahiran para Ma’sumin, khususnya Imam Husain as, bukanlah sekadar seremonial belaka.
Dalam tradisi spiritual Ahlulbait, ekspresi kegembiraan (Surur) yang sejati haruslah bermanifestasi dalam bentuk pendekatan diri (Taqarrub) kepada Allah SWT.
Hari ke-3 bulan Sya’ban adalah momen di mana pintu rahmat Allah dibuka selebar-lebarnya demi memuliakan kelahiran sang cucu Nabi.
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan kita untuk mengisi hari mulia ini dengan amalan-amalan yang menyucikan jiwa, sebagai bentuk rasa syukur kita karena Allah telah menghadirkan Bahtera Penyelamat (Safinatun Najah) di tengah-tengah umat manusia.
Berikut adalah amalan-amalan utama yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari ini:
1. Berpuasa
Berpuasa di bulan Sya’ban memiliki keutamaan yang luar biasa, terlebih jika dilakukan bertepatan dengan hari kelahiran manusia suci. Puasa ini menjadi bentuk penyucian jiwa agar layak menyambut berkah Sya’ban.
2. Membaca Ziarah Imam Husain
Ingatkah Anda pada sumpah Malaikat Fitrus di atas? Ia berjanji akan menyampaikan salam siapa saja yang menyapa Imam Husain. Maka, hari ini adalah waktu terbaik untuk menagih janji tersebut.
Anda tidak perlu jauh-jauh ke Irak jika belum mampu. Cukup menghadap kiblat, hadirkan hati, dan bacalah Ziarah Waris atau ziarah mutlak Imam Husain.
3. Membaca Doa Khusus 3 Sya’ban
Terdapat sebuah doa khusus yang diriwayatkan oleh Imam Hasan Al-Askari as untuk hari ini. Doa ini sangat indah karena dibuka dengan kalimat tawassul:
“Allâhumma innî as’aluka bi haqqil mawlûdi fî hâdzal yawm…”
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu demi hak bayi yang dilahirkan pada hari ini…)
Dalam doa tersebut, kita juga memohon agar Allah mengumpulkan kita kelak bersama Imam Husain di tempat yang mulia, sebagaimana kita bergembira merayakan kelahirannya di dunia.
Berikut adalah teks doa lengkapnya:
Kelahiran Imam Husain as pada 3 Sya’ban bukan sekadar peristiwa sejarah biasa. Ia adalah peristiwa langit. Namanya turun dari Tuhan, kelahirannya dihadiri ribuan malaikat, ayunannya menjadi tempat sembuhnya sayap yang patah, namun nasibnya di Karbala juga telah dinubuatkan sejak ia dalam buaian.
Mari jadikan momen 3 Sya’ban ini sebagai titik balik untuk memperbaiki hubungan kita dengan Ahlulbait.
Semoga sebagaimana Malaikat Fitrus mendapatkan kembali sayapnya berkat Imam Husain, kita pun mendapatkan kembali sayap-sayap spiritual kita yang patah akibat dosa, melalui syafaat Sang Penghulu Pemuda Surga.

