Di tengah padang Karbala yang panas dan dikepung oleh ribuan pasukan musuh yang berhati batu, terdapat satu pemandangan yang sempat membuat waktu seakan berhenti.
Ketika seorang pemuda gagah nan rupawan keluar dari tenda Imam Husain dengan mengenakan baju zirah kakeknya (Ali bin Abi Thalib) dan menunggangi kuda kakek buyutnya (Rasulullah SAW), banyak mata di kubu musuh yang terbelalak.
Selama beberapa detik, mereka mengira sedang melihat hantu. Mereka seolah melihat Nabi Muhammad SAW hidup kembali dan berjalan di tengah-tengah mereka di usia mudanya.
Pemuda itu adalah Ali Akbar bin Husain, putra sulung Imam Husain as. Ia bukan sekadar seorang pahlawan muda yang siap mati demi ayahnya. Ia adalah cerminan hidup dari sosok manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi.
Gelar yang disematkan pada Ali Akbar sebagai manusia yang paling mirip Rasulullah SAW bukanlah klaim sembarangan. Pengakuan ini keluar langsung dari lisan suci ayahnya sendiri, Imam Husain as.
Momen paling memilukan itu terjadi pada siang hari 10 Muharram. Setelah para sahabat setia gugur satu per satu, tibalah giliran keluarga inti Nabi (Bani Hasyim) untuk maju ke medan laga.
Ali Akbar adalah orang pertama dari Bani Hasyim yang menghadap ayahnya untuk meminta izin berperang.
Imam Husain, yang biasanya berat melepas kepergian para sahabatnya, kali ini langsung memberikan izin kepada putra tercintanya. Namun, saat Ali Akbar memutar kudanya menuju medan perang, pertahanan hati sang ayah runtuh.
Imam Husain menatap punggung putranya yang semakin menjauh dengan air mata bercucuran, lalu menengadahkan tangannya ke langit dan mengucapkan kalimat legendaris yang dicatat sejarah:
“Ya Allah, saksikanlah atas kaum ini! Sungguh, telah keluar menuju mereka seorang pemuda yang paling mirip dengan Rasul-Mu; baik dalam rupanya (khalqan), akhlaknya (khuluqan), maupun tutur katanya (manthiqan). Dan sesungguhnya, jika kami merindukan melihat wajah Nabi-Mu, kami memandang wajah pemuda ini.”
Kalimat ini menegaskan betapa istimewanya posisi Ali Akbar. Bagi Ahlulbait yang hidup setelah wafatnya Nabi, Ali Akbar adalah pengobat rindu.
Jika Sayidah Zainab merindukan senyum kakeknya, ia menatap Ali Akbar.
Jika Imam Husain merindukan suara kakeknya saat berkhotbah atau adzan, ia mendengarkan suara Ali Akbar.
Melepas Ali Akbar ke tengah kepungan pedang musuh, bagi Imam Husain, rasanya seperti mengirimkan kembali Rasulullah SAW untuk disakiti oleh umatnya sendiri. Inilah ujian pengorbanan terbesar seorang ayah di Karbala.
Syahid Pertama dari Bani Hasyim
Setelah mendapatkan restu dari ayahnya, Ali Akbar memacu kudanya ke tengah medan laga. Ia adalah syahid pertama dari kalangan Bani Hasyim (keluarga inti Nabi) yang terjun ke medan perang setelah para sahabat setia Imam Husain gugur semua.
Di hadapan ribuan pasukan musuh, pemuda berusia sekitar 18-25 tahun (berdasarkan perbedaan riwayat) ini tidak gentar sedikit pun. Darah kakeknya, Ali bin Abi Thalib as (Sang Singa Allah), mengalir deras di nadinya.
Ali Akbar bertarung dengan ketangkasan yang luar biasa. Setiap kali pedangnya berayun, barisan musuh kocar-kacir.
Sejarah mencatat, banyak prajurit musuh yang enggan berhadapan langsung dengannya, bukan hanya karena takut pada kekuatannya, tetapi juga karena segan melihat wajahnya yang begitu mirip dengan Nabi mereka sendiri.
Ia mengaum di medan perang, memperkenalkan dirinya dengan bangga:
“Aku adalah Ali putra Husain bin Ali. Demi Baitullah, kamilah yang lebih berhak atas Nabi daripada (Yazid) anak keturunan pelacur itu. Demi Allah, orang keji tidak akan memerintah kami!”
Semangat mudanya membakar nyalinya untuk terus maju, meskipun ia dikepung dari segala penjuru.
Namun, sekuat apa pun fisik seorang manusia, ia memiliki batas. Di bawah terik matahari padang pasir Karbala yang membakar, ditambah beratnya baju zirah dan sengitnya pertempuran, rasa haus yang luar biasa mulai menyiksa Ali Akbar.
Di tengah kecamuk perang, ia sempat kembali sebentar ke tenda ayahnya. Dengan napas terengah-engah dan bibir yang kering pecah-pecah, ia mengadu:
“Wahai Ayahku, rasa haus telah membunuhku, dan beratnya baju besi ini telah melemahkanku. Apakah ada seteguk air untuk menyegarkan kekuatanku menghadapi musuh?”
Hati Imam Husain remuk redam mendengar permintaan sederhana dari putranya yang sedang berjuang itu. Air mata Imam menetes deras. Beliau memeluk putranya dan berkata dengan suara yang tercekik karena pilu.
“Bersabarlah wahai anakku tercinta… Berjuanglah sedikit lagi. Tidak lama lagi engkau akan bertemu kakekmu, Rasulullah SAW, dan beliau akan memberimu minum dari telaganya yang membuatmu tidak akan haus selamanya.”
Imam Husain tidak memiliki air setetes pun. Sebagai gantinya, beliau memasukkan lidahnya (atau dalam riwayat lain, cincinnya) ke dalam mulut Ali Akbar untuk sekadar membasahi bibir putranya yang kering.
Dengan sisa tenaga terakhir dan restu terakhir dari ayahnya, Ali Akbar kembali ke medan perang. Kali ini, musuh yang melihat kondisinya yang melemah, menyerangnya dengan keroyokan yang brutal.
Akhirnya, sebuah tombak musuh menghujam dada bidang pemuda yang mirip Nabi itu. Ali Akbar kehilangan keseimbangan. Saat tubuh indahnya jatuh dari atas kuda menuju tanah Karbala yang panas, ia mengerahkan sisa suaranya untuk memanggil ayahnya untuk terakhir kali.
“Salam atasmu wahai Ayahku! Ini kakekku Rasulullah telah datang menjemputku…”
Mendengar salam perpisahan dari putranya, Imam Husain as bergegas memacu kudanya menuju sumber suara bagaikan seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya.
Pemandangan yang didapati Sang Imam sungguh menghancurkan hati. Putra kebanggaannya, yang wajahnya adalah cerminan Rasulullah SAW, kini terbaring di atas pasir panas dengan tubuh penuh luka dan berlumuran darah.
Imam Husain segera menjatuhkan dirinya dari kuda dan memeluk jasad putranya. Beliau meletakkan pipinya yang suci di atas pipi Ali Akbar yang berdebu. Tangisan sang ayah pecah seketika.
Dalam kepedihan yang mendalam, Imam Husain mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan kalimat yang menunjukkan betapa hancurnya perasaan beliau saat itu:
“Semoga Allah membinasakan kaum yang telah membunuhmu, wahai anakku! Betapa beraninya mereka terhadap Allah dan melanggar kehormatan Rasulullah… Setelah kepergianmu, dunia ini hanyalah kegelapan (’Alad dunya ba’dakal ’afa).”
Kalimat ini menyiratkan bahwa bagi Imam Husain, cahaya dunia ini telah padam seiring dengan padamnya nyawa Ali Akbar.
Kesedihan Imam Husain begitu mendalam hingga beliau dikabarkan nyaris tidak sanggup bangkit berdiri. Beliau akhirnya memanggil para pemuda Bani Hasyim lainnya untuk membantu mengangkat jasad pemimpin muda mereka kembali ke perkemahan.
Ali Akbar adalah Teladan Abadi bagi Pemuda Muslim
Kisah Ali Akbar bin Husain bukanlah sekadar tragedi masa lalu. Ia adalah cermin abadi bagi setiap pemuda Muslim di segala zaman.
Ali Akbar memiliki segalanya yang diimpikan anak muda, mulai ketampanan fisik yang luar biasa, garis keturunan termulia, dan kekuatan fisik yang gagah. Namun, semua kelebihan duniawi itu tidak membuatnya sombong atau lalai.
Ia adalah simbol ketaatan total seorang anak kepada ayahnya (yang juga pemimpinnya), dan simbol pengorbanan tertinggi seorang hidayah (pemuda) demi membela kebenaran.
Ia membuktikan bahwa wajah yang mirip Nabi tidak akan sempurna jika tidak dibarengi dengan akhlak dan keberanian yang juga mirip Nabi.
“Salam atasmu wahai yang paling mirip dengan Rasulullah dalam rupa dan akhlaknya. Salam atasmu wahai Ali Akbar, wahai putra Al-Husain.”

