Dalam sejarah tragedi Karbala, ada satu sosok yang sinarnya nyaris menyamai sang tokoh utama, Imam Husain as. Namanya selalu diteriakkan dengan penuh semangat dalam setiap majelis duka, dan kisahnya menjadi simbol kesetiaan mutlak yang tak tertandingi.
Lantas, siapakah Abbas bin Ali sebenarnya?
Secara nasab, Abbas bin Ali adalah putra dari Imam Ali bin Abi Thalib (khalifah keempat) dari istrinya yang bernama Fatimah binti Hizam, atau yang lebih dikenal dengan gelar Ummul Banin. Ia adalah adik tiri dari Imam Hasan dan Imam Husain as.
Di Karbala, ia memegang peran paling vital sebagai Panglima Perang sekaligus Pemegang Panji (Alamdar). Namun, sejarah mencatatnya bukan hanya karena kekuatan fisiknya yang mampu membuat musuh gemetar, melainkan karena satu keputusan besar yang ia ambil di tepi Sungai Efrat, yaitu memilih dahaga demi kesetiaan kepada kakaknya.
Lahir untuk Menjadi Perisai
Kelahiran Abbas bin Ali bukanlah kejadian biasa. Ia seolah memang didesain sejak awal untuk satu tujuan suci, yakni menjadi perisai bagi Imam Husain di masa depan.
Kisah ini bermula bertahun-tahun setelah wafatnya putri Rasulullah, Sayidah Fatimah Az-Zahra as.
Suatu hari, Imam Ali bin Abi Thalib memanggil saudaranya, Aqil bin Abi Thalib, yang dikenal ahli dalam ilmu silsilah (Genealogi) bangsa Arab.
Imam Ali berkata, “Wahai Aqil, carikanlah untukku seorang wanita dari kabilah yang para lelakinya dikenal sebagai pemberani dan petarung tangguh. Aku ingin menikahinya agar ia melahirkan untukku seorang ksatria yang kelak akan menolong putraku, Husain, di padang Karbala.”
Pilihan Aqil pun jatuh pada Fatimah binti Hizam dari kabilah Bani Kilab, kabilah yang dikenal tak memiliki rasa takut.
Dari pernikahan inilah lahir Abbas bin Ali. Sejak bayi, Abbas sudah menunjukkan tanda-tanda kekuatan dan keberanian yang luar biasa. Sang ayah, Imam Ali, sering menciumi lengan kecil Abbas sambil menangis, karena beliau tahu kelak kedua lengan itulah yang akan terpotong demi membela Islam.
Jadi, bisa dikatakan bahwa Abbas lahir dengan satu misi, Ia ada karena Husain, dan ia hidup untuk Husain.
Sang Purnama Bani Hasyim
Tumbuh besar dalam asuhan Imam Ali dan dididik langsung oleh kedua kakaknya (Hasan dan Husain), Abbas menjelma menjadi pemuda yang sempurna, baik secara fisik maupun akhlak.
Ia memiliki wajah yang sangat tampan dan bercahaya, sehingga orang-orang Arab di masa itu memberinya julukan Qamar Bani Hasyim (Bulan Purnamanya Bani Hasyim). Kehadirannya di tengah kegelapan malam laksana bulan yang menerangi jalan.
Secara fisik, Abbas mewarisi kekuatan ayahnya. Ia digambarkan memiliki postur tubuh yang sangat tinggi dan kekar.
Riwayat menyebutkan, saking tingginya Abbas, jika ia menunggangi kuda yang besar dan kuat sekalipun, kedua kakinya akan menyentuh tanah.
Di Karbala, Imam Husain memberikan kepercayaan tertinggi kepadanya sebagai Pemegang Panji (Alamdar). Panji perang adalah simbol kehormatan pasukan.
Selama panji itu masih berdiri tegak di tangan Abbas, hati para wanita dan anak-anak di perkemahan merasa aman dan tenang, karena mereka tahu Sang Pelindung masih ada.
Tragedi Sungai Efrat
Inilah momen yang paling menentukan dalam sejarah hidup Abbas bin Ali, sebuah momen yang menjawab mengapa namanya diagungkan sebagai simbol kesetiaan abadi.
Pada hari ke-10 Muharram, ketika rasa haus di perkemahan sudah tak tertahankan, terutama jeritan anak-anak kecil yang meminta air, Abbas meminta izin untuk mengambil air di Sungai Efrat.
Meskipun sungai itu dijaga ketat oleh 4.000 pasukan pemanah musuh, Abbas dengan gagah berani menerobos blokade tersebut sendirian.
Bagaikan singa yang mengamuk, ia memporak-porandakan barisan musuh hingga berhasil mencapai tepi sungai.
Abbas turun dari kudanya dan mencelupkan tangannya ke dalam air sungai yang jernih dan dingin itu. Ia mengangkat air itu ke depan mulutnya.
Ia sendiri sangat kehausan setelah bertempur. Secara naluri manusiawi, tubuhnya berteriak untuk meminum kesegaran itu.
Namun, tepat sebelum air itu menyentuh bibirnya, ia teringat wajah kakaknya, Imam Husain, dan wajah keponakan-keponakannya yang sedang kehausan di tenda.
Hatinya bergejolak. Rasa malunya kepada Sang Kakak mengalahkan rasa hausnya. Abbas berkata pada dirinya sendiri:
“Wahai jiwaku! Hinadahlah engkau setelah Husain tiada…Bagaimana mungkin engkau meminum air dingin ini, Sedangkan Husain sedang meminum cawan kematian dan kehausan?”
Tanpa ragu, Abbas membuang kembali air itu ke sungai.
Ia menolak meminum setetes pun air sebelum tuannya (Imam Husain) minum. Ia kemudian mengisi kantong air yang terbuat dari kulit (qirbah) hingga penuh, lalu memacu kudanya kembali ke perkemahan dengan membawa harapan bagi anak-anak yang dahaga, meski tenggorokannya sendiri kering kerontang.
Berikut adalah Bagian Penutup yang menggabungkan unsur heroik (pertarungan terakhir) dan unsur sedih (reaksi Imam Husain).
Gugurnya Sang Pembawa Air
Dalam perjalanan kembali membawa kantong air demi anak-anak yang kehausan, Abbas dikepung dari segala penjuru.
Pasukan musuh tahu bahwa mereka tidak mungkin mengalahkan singa Al-Qamah ini dalam duel satu lawan satu. Maka, mereka menyerang dengan cara pengecut, mereka bersembunyi di balik pohon kurma dan menyerang secara tiba-tiba.
Seorang prajurit musuh menebas tangan kanan Abbas hingga putus. Namun, Abbas yang tak ingin gagal dalam tugasnya, segera memindahkan kantong air itu ke tangan kirinya sambil terus memacu kuda. Tak lama kemudian, tangan kirinya pun ditebas hingga putus.
Dalam kondisi tanpa kedua tangan, Abbas tetap berusaha melindungi kantong air itu dengan cara menggigit talinya.
Harapannya hanya satu: “Biarlah aku mati, asalkan air ini sampai ke bibir anak-anak Husain.”
Namun, takdir berkata lain. Sebuah anak panah musuh melesat dan menembus kantong air tersebut. Air yang berharga itu tumpah ke pasir Karbala yang panas.
Melihat air itu tumpah, semangat hidup Abbas pun ikut tumpah. Ia merasa malu untuk bertemu wajah kakaknya dan anak-anak yang menunggunya.
Akhirnya, sebuah pukulan besi menghantam kepalanya hingga ia jatuh dari kuda. Di detik-detik terakhirnya, barulah ia memanggil Imam Husain dengan sebutan Kakak: “Wahai Kakakku, temui aku…”
Mendengar seruan adiknya, Imam Husain bergegas datang bagaikan elang yang menukik. Ketika melihat kondisi adiknya yang terbaring tanpa kedua lengan dengan tubuh penuh luka, Imam Husain merasakan kesedihan yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya.
Beliau memeluk jasad Abbas dan mengucapkan kalimat perpisahan yang sangat memilukan:
“Al-aana inkasara zhahri, wa qalla hilati…”
Artinya: “Sekarang, patahlah punggungku, dan habislah sudah daya upayaku.”
Kalimat ini menegaskan posisi Abbas bin Ali. Ia bukan sekadar panglima perang, tapi ia adalah tulang punggung Imam Husain. Dengan gugurnya Abbas, Imam Husain merasa sendirian menghadapi musuh.
Siapakah Abbas bin Ali?
Abbas bin Ali adalah definisi dari Persaudaraan Sejati. Ia mengajarkan kepada dunia bahwa cinta kepada pemimpin dan saudara itu tidak cukup hanya dengan kata-kata, tapi dibuktikan dengan darah dan pengorbanan.
Hingga hari ini, namanya selalu disebut berdampingan dengan kakaknya “Ya Husain, Ya Abbas.”

