Mengenal Habib bin Muzhahir, Sang Komandan Sayap Kiri di Padang Karbala

Penulis: Redaksi
Senin, 19 Januari 2026 | 14.43 WITA · 59 Views
Mengenal Habib bin Muzhahir

Dalam sejarah Islam, jarang sekali ditemukan sosok yang memiliki kehormatan ganda: hidup di masa Rasulullah SAW sebagai sahabat, dan gugur syahid membela cucu kesayangan beliau, Imam Husain as, di padang Karbala. Salah satu dari sedikit orang terpilih itu adalah Habib bin Muzhahir.

Habib bin Muzhahir Al-Asadi bukanlah prajurit biasa. Ia adalah seorang sahabat Nabi, penghapal Al-Quran, dan tokoh terpandang dari Bani Asad yang tinggal di Kufah.

Di usianya yang sudah senja (sekitar 75 tahun), semangat jihadnya justru membara melebihi anak muda.

Ketika ribuan orang mengkhianati janji setia mereka kepada Imam Husain, Habib justru mempertaruhkan nyawanya untuk menyelinap keluar dari penjagaan ketat kota Kufah demi menepati janji setianya.

Persahabatan Dua Generasi

Ikatan batin antara Habib bin Muzhahir dan Imam Husain as bukanlah ikatan yang baru terjalin di Karbala.

Hubungan ini memiliki akar yang dalam, merentang jauh ke masa lalu saat Rasulullah SAW masih hidup.

Dalam kitab-kitab sejarah (Maqtal), diriwayatkan sebuah kisah yang menyentuh hati.

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang berjalan bersama para sahabatnya. Beliau melihat beberapa anak kecil sedang bermain di jalanan, termasuk cucu beliau, Husain bin Ali, dan seorang anak kecil lainnya yaitu Habib.

Rasulullah SAW melihat Habib kecil dengan penuh kasih sayang, lalu mengangkat dan menciumnya.

Para sahabat bertanya mengapa beliau melakukan itu. Rasulullah SAW menjawab (kurang lebih maknanya):

“Aku melihat anak ini (Habib) sangat mencintai Husain. Ia mengambil debu dari bawah telapak kaki Husain dan mengusapkannya ke wajahnya karena rasa cintanya. Karena ia mencintai cucuku, maka aku pun mencintainya.”

Siapa sangka, puluhan tahun kemudian, ramalan cinta itu terbukti. Anak kecil yang dulu bermain bersama itu kini berdiri sebagai perisai tua yang siap menerima ribuan panah demi melindungi sahabat masa kecilnya, Al-Husain.

Surat Panggilan dari Sang Imam

Ketika Imam Husain as tiba di Karbala dan melihat sedikitnya jumlah pendukung yang menyertai beliau, Imam menulis sebuah surat singkat namun sangat penting.

Surat itu tidak ditujukan kepada raja atau penguasa, melainkan kepada sahabat lamanya di Kufah, Habib bin Muzhahir.

Isi surat tersebut sangat menyentuh hati. Imam Husain menulis:

Dari Husain bin Ali kepada Lelaki yang Faqih (Paham Agama), Habib bin Muzhahir.

Amma ba’du, wahai Habib, engkau mengetahui kedekatan kami dengan Rasulullah SAW. Dan engkau lebih mengenal kami daripada orang lain. Engkau adalah sosok yang memiliki ghierah (semangat pembelaan) dan harga diri. Maka janganlah engkau menahan diri untuk menolong kami. Kakekku Rasulullah SAW kelak akan membalas kebaikanmu di hari kiamat.”

Saat surat itu sampai di tangan Habib di Kufah, kota tersebut sedang dalam kondisi darurat militer.

BACA JUGA: Biografi Sayyidah Zainab Al-Kubra, Sang Pahlawan Karbala

Ibnu Ziyad yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Kufah telah memblokade semua jalan keluar untuk mencegah orang-orang bergabung dengan imam Husain.

Habib membaca surat itu dengan air mata bercucuran. Ia sadar, ini bukan sekadar surat kabar, melainkan panggilan jihad terakhir.

Diriwayatkan bahwa istri Habib adalah sosok wanita agung yang justru mendorong suaminya untuk pergi, meskipun itu berarti ia akan menjadi janda.

Sang istri berkata, “Wahai Habib, apakah engkau akan membiarkan putra putri Fatimah dikepung musuh sementara engkau duduk diam di sini?”

Menembus Blokade Kufah

Perjalanan Habib menuju Karbala adalah misi bunuh diri. Kufah dijaga ketat oleh ribuan tentara. Siapapun yang ketahuan ingin menyusul Husain akan langsung dipenggal di tempat.

Habib bin Muzhahir menggunakan kecerdikannya. Ia menyamar dan bergerak secara sembunyi-sembunyi di malam hari melalui jalan-jalan tikus perkebunan kurma.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan sahabat setia lainnya, Muslim bin Ausajah, yang juga sedang menyelinap keluar dengan tujuan yang sama.

BACA JUGA: Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad, Cahaya Ketiga yang Lahir di Bulan Sya’ban

Pertemuan dua orang tua ini menjadi kekuatan tersendiri. Meski tubuh mereka telah dimakan usia, semangat mereka melampaui ribuan pemuda.

Ketika akhirnya bayangan Habib bin Muzhahir terlihat mendekati perkemahan Imam Husain di Karbala, suasana perkemahan yang tadinya suram berubah menjadi penuh sukacita.

Para sahabat bertakbir, “Allahu Akbar!”

Zainab binti Ali, saudari Imam Husain, bahkan menitipkan salam khusus untuk Habib. Ketika Habib mendengar bahwa putri Fatimah Az-Zahra menitipkan salam untuknya, ia menangis tersedu-sedu sambil memukulkan pasir ke wajahnya karena merasa sangat malu dan terharu atas kehormatan tersebut.

Kedatangan Habib bin Muzhahir membawa suntikan moral yang luar biasa bagi pasukan Imam Husain. Ia bukan sekadar tambahan satu prajurit, tapi ia adalah simbol bahwa orang-orang terbaik di zaman Nabi masih berdiri bersama imam Husain.

Misi Penyelamatan Bani Asad

Setibanya di Karbala dan melihat betapa sedikitnya jumlah pasukan yang melindungi Imam Husain, hati Habib bin Muzhahir teriris. Ia tidak rela melihat cucu Rasulullah dikepung oleh ribuan musuh hanya dengan segelintir pembela.

Dengan izin Imam Husain, Habib menunggang kudanya di tengah malam menuju perkampungan kabilahnya, Bani Asad, yang terletak tak jauh dari sungai Efrat.

Ia ingin menyelamatkan kaumnya dari kehinaan abadi karena membiarkan Imam Husain sendirian.

Di hadapan para tetua dan pemuda Bani Asad, Habib menyampaikan pidato yang sangat menggetarkan:

“Wahai Bani Asad! Aku datang kepada kalian dengan membawa kebaikan yang belum pernah dibawa oleh seorang pemimpin kepada kaumnya. Aku datang mengajak kalian untuk menolong putra putri Rasulullah. Demi Allah! Kelak di hari kiamat, Rasulullah SAW tidak akan memandang wajah kalian jika kalian membiarkan anak cucunya disembelih sendirian di padang tandus ini.”

Kata-kata tulus dari orang tua yang dihormati ini berhasil membakar semangat mereka. Sekitar 90 orang pemuda Bani Asad bangkit dan bersiap menyusul Habib.

Namun sayang, mata-mata musuh melaporkan hal ini kepada Umar bin Sa’ad. Pasukan musuh segera memblokade jembatan dan jalan menuju perkemahan Imam Husain. Bantuan dari Bani Asad itu gagal menembus blokade.

Habib kembali kepada Imam Husain dengan hati hancur, namun Imam menghiburnya dengan kalimat: “La haula wa la quwwata illa billah.”

Singa Tua di Sayap Kiri

Ketika pagi hari 10 Muharram tiba. Imam Husain as mulai mengatur barisan pasukannya yang kecil namun kokoh itu. Beliau membagi pasukan menjadi tiga bagian utama.

Posisi Sayap Kanan dipercayakan kepada Zuhair bin Qain, posisi Jantung Pertahanan (Tengah) diberikan kepada Abbas bin Ali, dan posisi Sayap Kiri diserahkan sepenuhnya kepada sang veteran perang, Habib bin Muzhahir.

Meskipun rambut dan jenggotnya telah memutih, Habib bertempur layaknya singa muda yang kelaparan. Ia menerjang barisan musuh sambil melantunkan syair untuk menjatuhkan mental lawan:

“Aku adalah Habib dan ayahku adalah Muzhahir, Pasukan berkuda (kami) lebih hebat saat pertempuran memanas, Dan kami lebih setia daripada kalian, serta lebih takut akan azab Allah…”

Sejarah mencatat keajaiban di tangan orang tua ini. Meski dikepung ribuan orang, pedang Habib bin Muzhahir berhasil menumbangkan puluhan prajurit musuh. Ia membuktikan bahwa kekuatan iman jauh melampaui kekuatan fisik semata.

Namun, takdir syahid tidak dapat ditolak. Seorang prajurit musuh dari Bani Tamim menyerang Habib dengan tombak hingga ia terjatuh dari kudanya. Saat ia berusaha bangkit, prajurit lain menebaskan pedang ke kepalanya.

Habib bin Muzhahir, sahabat Nabi yang mulia itu, akhirnya tersungkur ke tanah Karbala yang panas, menyusul sahabat-sahabatnya yang telah lebih dulu pergi.

Melihat komandan sayap kirinya gugur, Imam Husain as segera memacu kudanya menghampiri jasad Habib.

Pemandangan ini sangat memilukan. Imam Husain duduk di samping jasad sahabat masa kecilnya itu.

Dengan suara bergetar menahan tangis, Imam Husain mengucapkan kalimat perpisahan yang abadi:

“Semoga Allah memberimu pahala wahai Habib… Engkau adalah hamba yang fadhil (utama), yang mampu mengkhatamkan Al-Quran dalam satu malam.”

Kalimat Imam Husain ini menyingkap sisi lain dari Habib. Ia bukan hanya jagoan perang, tapi ia adalah ahli ibadah (Abid) yang menghabiskan malam-malamnya dengan membaca Al-Quran.

Kisah Habib bin Muzhahir mengajarkan kita bahwa usia bukanlah alasan untuk berhenti berjuang di jalan kebenaran. Ia memulai hidupnya dengan melihat wajah Rasulullah SAW, dan mengakhiri hidupnya dengan membela cucu Rasulullah SAW.

Namanya kini abadi. Setiap peziarah yang masuk ke makam suci Imam Husain di Karbala, pasti akan berdiri dan memberi salam di depan makam Habib bin Muzhahir yang terletak tepat di gerbang masuk, seolah ia masih berdiri di sana menjaga tuannya hingga detik ini.

Salam atasmu wahai Sahabat Rasulullah… Salam atasmu wahai orang tua yang ubannya telah disemir oleh darah kesetiaan. Salam atasmu wahai yang mengkhatamkan Al-Quran di malam terakhir. Salam atasmu wahai Habib bin Muzhahir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *