Dalam formasi militer pasukan Imam Husain as di Karbala, terdapat dua sayap pertahanan utama. Sayap Kiri dipimpin oleh sahabat setia beliau, Habib bin Muzhahir. Sedangkan Sayap Kanan dipercayakan kepada sosok tokoh terpandang yang kisahnya sangat unik, yaitu Zuhair bin Qain.
Berbeda dengan Habib yang sejak awal merupakan loyalis Imam Ali, Zuhair bin Qain awalnya adalah seorang yang justru berusaha menghindar dari Imam Husain.
Ia dikenal sebagai simpatisan Utsman yang secara politik berseberangan dengan keluarga imam Ali as.
Namun, sejarah mencatat namanya dengan tinta emas sebagai salah satu pahlawan terbesar dalam tragedi Karbala.
Siapakah Zuhair bin Qain?
Nama lengkapnya adalah Zuhair bin Al-Qain Al-Bajali. Ia adalah tokoh terhormat dari kabilah Bajilah dan tinggal di Kufah. Sosoknya dikenal gagah, kaya raya, dan memiliki pengaruh besar di kalangan kaumnya.
Secara ideologi politik, Zuhair awalnya bukanlah pengikut Ahlulbait. Ia lebih condong pada pandangan politik Utsmaniyah.
Karena itulah, ketika mendengar berita pergerakan Imam Husain menuju Kufah, Zuhair tidak memiliki niat sedikit pun untuk bergabung.
Kisah pertemuan Zuhair dengan Imam Husain sangatlah unik. Saat itu, Zuhair baru saja pulang dari ibadah Haji bersama istri dan kerabatnya.
Rute perjalanan pulang mereka kebetulan searah dengan rute perjalanan Imam Husain menuju Karbala.
Namun, Zuhair berusaha keras untuk tidak berpapasan. Para sejarawan mencatat taktik kucing-kucingan yang dilakukan Zuhair.
Jika rombongan Imam Husain berhenti untuk beristirahat, Zuhair akan memerintahkan rombongannya untuk terus jalan.
Jika rombongan Imam Husain berjalan, barulah Zuhair berani berhenti mendirikan tenda.
Ia melakukan ini karena tidak ingin terlibat dalam konflik politik yang berbahaya. Ia ingin cari aman. Namun, takdir Allah berkata lain.
Di sebuah tempat bernama Zurud, takdir akhirnya mempertemukan mereka. Karena keterbatasan sumber air, rombongan Zuhair terpaksa berhenti di lokasi yang sama dengan rombongan Imam Husain, meski jaraknya agak berjauhan.
Saat Zuhair sedang makan siang bersama kerabatnya, tiba-tiba datang seorang utusan dari tenda Imam Husain. Utusan itu berkata:
“Wahai Zuhair, Abu Abdillah (Imam Husain) memanggilmu untuk datang menemuinya.”
Suasana hening seketika. Makanan di tangan Zuhair terjatuh saking kagetnya. Ia diam terpaku, bingung dan berat hati untuk pergi.
Di saat genting itulah, istrinya yang bernama Dalham binti Amr (ada juga yang menyebut Dilham) tampil sebagai pahlawan.
Sang istri memarahi Zuhair dengan kalimat yang tajam:
“Subhanallah! Putra Rasulullah mengutus seseorang memanggilmu, lalu kau tidak mau mendatanginya? Apa salahnya jika kau pergi sebentar menemui beliau, mendengarkan ucapannya, lalu kembali lagi?”
Teguran sang istri inilah yang menjadi kunci pembuka hidayah. Dengan langkah berat dan wajah masam, Zuhair akhirnya pergi menuju tenda Imam Husain.
Apa yang terjadi di dalam tenda Imam Husain? Tidak ada riwayat yang mencatat detail percakapan mereka. Itu adalah rahasia ilahi antara sang Imam dan pengikut barunya.
Namun, yang pasti adalah perubahannya. Zuhair masuk dengan wajah keruh, namun tak lama kemudian, ia keluar dari tenda Imam dengan wajah berseri-seri dan penuh semangat.
Zuhair segera kembali ke tendanya dan memerintahkan pelayannya: “Bongkar tendaku dan pindahkan ke dekat tenda Imam Husain!”
Lalu ia berpaling kepada istrinya yang setia, Dalham, dan berkata dengan linangan air mata:
“Wahai istriku, aku telah memutuskan untuk bergabung dengan Imam Husain dan menyerahkan nyawaku demi dia. Aku tidak ingin kau terkena bahaya karenaku. Maka, aku ceraikan engkau (melepaskan ikatan suami istri agar sang istri aman kembali ke keluarganya), kembalilah engkau kepada keluargamu. Karena aku tidak ingin menimpakan kepadamu selain kebaikan.”
Sang istri menangis dan berkata: “Semoga Allah memilihkan yang terbaik untukmu. Wahai Zuhair, aku punya satu permintaan: Ingatlah aku nanti di Hari Kiamat di hadapan Kakek Husain (Rasulullah).”
Saat pagi hari 10 Muharram tiba, Imam Husain mengatur formasi pasukannya yang berjumlah sedikit itu.
Sebelum perang pecah, Zuhair maju ke depan pasukan musuh dengan berbaju besi lengkap.
Ia berpidato dengan lantang, mencoba menasihati penduduk Kufah agar tidak membunuh cucu Nabi. Namun, nasihat itu dibalas dengan cacian dan anak panah.
Momen kepahlawanan Zuhair yang paling dikenang adalah saat waktu Shalat Zhuhur tiba. Imam Husain meminta gencatan senjata untuk shalat, namun musuh terus memanah.
Zuhair bin Qain bersama Said bin Abdullah al-Hanafi maju berdiri di depan Imam Husain. Mereka menjadikan dada dan tubuh mereka sebagai tameng hidup. Setiap kali ada panah yang mengarah ke Imam yang sedang shalat, Zuhair akan melompat menghadangnya dengan tubuhnya.
Setelah shalat usai, dan rekannya (Said) telah gugur, semangat Zuhair justru semakin membara.
Ia berpamitan kepada Imam Husain, lalu kembali memacu kudanya ke tengah medan laga untuk pertarungan terakhir.
Dengan gagah berani, ia menerjang ribuan pasukan musuh sambil melantunkan syair :
“Aku adalah Zuhair putra Qain! Aku mengusir kalian dengan pedangku demi membela Husain… Sesungguhnya Husain adalah cucu Rasulullah tanpa dusta… Duhai, andai saja nyawaku bisa terbelah dua (agar aku bisa mati berulang kali demi dia)!”
Zuhair bertempur habis-habisan hingga akhirnya gugur dikeroyok oleh pasukan musuh.
Ia telah memenuhi janjinya kepada sang istri untuk menjadi pembela setia cucu Rasulullah SAW.
Imam Husain as segera menghampiri jasadnya yang bersimbah darah dan berdoa:
“Semoga Allah tidak menjauhkanmu dari rahmat-Nya, wahai Zuhair. Dan semoga Allah melaknat mereka yang membunuhmu…”
Kisah Zuhair bin Qain mengajarkan kita bahwa masa lalu seseorang tidak menentukan akhir hidupnya.
Hidayah bisa datang kapan saja, bahkan di detik-detik terakhir, asalkan hati kita mau membukanya, terkadang melalui perantara teguran orang terdekat, seperti peran istri Zuhair, Dalham binti Amr.
Dari seorang yang lari menghindar, ia berubah menjadi Komandan Sayap Kanan yang namanya abadi disebut dalam setiap ziarah.

