Mengapa Kita Harus Mengenang 10 Muharram?

Penulis: Redaksi
Minggu, 18 Januari 2026 | 23.08 WITA · 54 Views
Mengapa Kita Harus Mengenang 10 Muharram

Empat belas abad adalah waktu yang sangat lama. Biasanya, debu zaman akan mengubur peristiwa-peristiwa sejarah hingga terlupakan dari memori kolektif manusia. Namun, hukum alam ini seakan tidak berlaku bagi tanggal 10 Muharram (Asyura).

Setiap tahun, ketika bulan Muharram tiba, jutaan hati di seluruh penjuru dunia kembali bergetar.

Air mata kembali tumpah seolah-olah tragedi yang menimpa cucu tercinta Rasulullah SAW, Imam Husain bin Ali as, di padang tandus Karbala baru terjadi kemarin sore.

Fenomena ini memunculkan sebuah pertanyaan besar di benak banyak orang, mungkin termasuk Anda.

“Mengapa? Mengapa kita harus terus mengenang peristiwa yang begitu menyakitkan dan telah berlalu ribuan tahun silam? Bukankah lebih baik kita melupakannya dan menatap masa depan?”

Jawabannya sederhana, namun mendalam Karena Karbala bukanlah sekadar kuburan sejarah. Karbala adalah universitas kehidupan yang abadi.

Mengenang tragedi Karbala bukan berarti kita terjebak di masa lalu. Justru, ini adalah upaya kita untuk menarik nilai-nilai luhur tentang keadilan melawan kezaliman, tentang cinta yang menuntut pengorbanan, dan tentang menjaga prinsip di tengah gempuran pragmatisme agar tetap hidup di masa kini.

Jika kita membiarkan memori tentang pengorbanan Imam Husain memudar, maka kita sedang membiarkan pelita kebenaran yang beliau nyalakan dengan darah sucinya ikut meredup di hati kita.

Mengapa Kita Harus Mengenang 10 Muharram?

Beberapa alasan mengapa kita harus selalu mengenang peristiwa 10 Muharram adalah:

1. Menegaskan Keberpihakan pada Keadilan Melawan Kezaliman

Alasan pertama adalah karena Karbala adalah simbol abadi pertarungan antara Al-Haq (Kebenaran) dan Al-Bathil (Kebatilan).

Peristiwa Karbala bukanlah sekadar perselisihan politik biasa dalam sejarah Islam. Ia adalah garis demarkasi yang tegas.

Di satu sisi ada Imam Husain as yang merepresentasikan puncak kesucian, prinsip, dan keadilan Ilahi.

Di sisi lain, ada rezim Yazid yang merepresentasikan puncak kerusakan moral, tirani, dan penindasan.

Imam Husain as pernah berkata saat dipaksa berbaiat (tunduk) kepada tiran: “Orang sepertiku tidak akan pernah berbaiat kepada orang seperti dia.”

Mengenang 10 Muharram berarti kita sedang memperbarui baiat batin kita. Kita diajak untuk terus bertanya pada diri sendiri, Di posisi manakah kita berdiri hari ini? Apakah kita berdiri bersama prinsip keadilan Husaini, atau kita diam membiarkan kezaliman ala Yazidi merajalela di sekitar kita?

BACA JUGA: Malam 11 Muharram (Sham-e-Ghariban): Kisah Pilu Sayidah Zainab Setelah Tragedi Asyura

Karbala mengajarkan bahwa bersikap netral saat melihat kezaliman adalah bentuk lain dari keberpihakan pada penindas.

2. Bukti Cinta kepada Rasulullah SAW dan Keluarganya (Ahlulbait)

Mengenang Asyura adalah ujian autentikasi cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW.

BACA JUGA: Mengupas Makna Setiap Hari Adalah Asyura, Setiap Tanah Adalah Karbala

Bukankah Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku ini kecuali kasih sayang kepada keluargaku (Al-Qurba).” (QS. Asy-Syura: 23).

Dan bukankah Rasulullah SAW telah bersabda dalam riwayat yang masyhur: “Husain dariku dan aku dari Husain. Allah mencintai siapa yang mencintai Husain.”

Logika cinta itu sederhana, Jika Anda mencintai seseorang, Anda akan turut bergembira saat ia gembira, dan turut bersedih saat ia disakiti.

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW kerap menangis saat memeluk cucunya, Husain, karena beliau mengetahui melalui wahyu tentang apa yang akan menimpa cucunya kelak.

Jika Sang Nabi saja menangisi nasib Husain jauh sebelum kejadiannya, lalu pantaskah kita sebagai umat yang mengaku mencintainya bersikap acuh tak acuh terhadap tragedi terbesar yang menimpa darah daging beliau?

Mengenang 10 Muharram adalah ekspresi empati dan duka kita sebagai bukti cinta (Mawaddah) kepada Ahlulbait Nabi.

3. Belajar Makna Pengorbanan

Dunia modern sering mengajarkan kita untuk bersikap pragmatis: mengutamakan keuntungan pribadi, keselamatan fisik, dan jabatan di atas segalanya. Karbala datang untuk menampar cara berpikir pragmatis tersebut.

Pelajaran hidup terbesar dari Karbala adalah tentang harga sebuah prinsip. Imam Husain as mengajarkan bahwa ada hal-hal yang jauh lebih berharga daripada nyawa, yaitu: Kehormatan Agama dan Kemuliaan Manusia.

Beliau tahu bahwa secara matematis militer, 72 orang tidak akan mungkin menang melawan ribuan pasukan bersenjata lengkap. Beliau tahu bahwa beliau dan keluarganya akan dibantai. Namun, beliau tetap maju. Mengapa?

Karena beliau sadar, jika beliau berkompromi dengan kebatilan hanya untuk menyelamatkan nyawanya, maka ajaran asli kakeknya, Islam Muhammad SAW, akan mati dan terkubur selamanya di bawah kekuasaan tiran.

BACA JUGA: Mengenal Tasbih Fatimah Az-Zahra: Keutamaan dan Tata Cara Mengamalkannya

Beliau memilih mengorbankan darah sucinya agar pohon Islam tetap tersiram dan hidup.

Mengenang Asyura mengajarkan kita untuk tidak mudah menjual prinsip keimanan kita demi recehan duniawi yang sesaat.

4. Menjaga Semangat Perbaikan Sosial (Amar Ma’ruf Nahi Munkar)

Banyak orang salah paham mengira Imam Husain bangkit untuk merebut kekuasaan. Padahal, dalam wasiatnya sebelum meninggalkan Madinah, beliau menegaskan tujuannya:

“Aku tidak keluar untuk kesombongan atau keangkuhan, tidak pula untuk membuat kerusakan atau kezaliman. Sesungguhnya aku keluar hanya untuk menuntut perbaikan (ishlah) pada umat kakekku. Aku ingin ber-amar ma’ruf dan nahi munkar…”

Saat itu, masyarakat sedang tertidur lelap dalam kerusakan moral. Korupsi dianggap biasa, hukum agama dipermainkan penguasa.

Masyarakat membutuhkan kejutan besar untuk membangunkan mereka dari tidur panjang itu. Dan kejutan itu adalah tragedi syahidnya cucu Nabi di Karbala.

Mengenang 10 Muharram adalah bahan bakar untuk menjaga semangat kepedulian sosial kita.

Ia mengingatkan kita bahwa seorang Muslim tidak boleh egois hanya memikirkan kesalehan pribadi, tetapi juga harus peduli pada perbaikan kondisi masyarakat di sekitarnya.

Dari poin-poin di atas, jelaslah bahwa 10 Muharram (Asyura) bukanlah sekadar tanggal merah atau dongeng masa lalu. Ia adalah sebuah sekolah akbar yang mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang merdeka, berprinsip, dan penuh cinta.

Mengenang Imam Husain as bukanlah tentang meratapi kematian semata, melainkan tentang merayakan kehidupan.

Kehidupan yang tidak tunduk pada kezaliman, kehidupan yang didedikasikan untuk nilai-nilai luhur, dan kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Semoga air mata yang jatuh saat mendengar kisah ini mampu membersihkan karat-karat di hati kita, dan semoga semangat Karbala senantiasa menjadi kompas moral dalam setiap langkah kehidupan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *